LAPORAN AKHIR
Komersialisasi Tenunan Songke:
Dampaknya Terhadap Masyarakat Manggarai
Studi Kasus di Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
kerjasama dengan
AUSTRALIAN CONSORTIUM FOR
IN-COUNTRY INDONESIAN STUDY (ACICIS)
dan
Ulla Keech-Marx
2002
Tulisan ini dipersembahkan kepada
teman-teman di Manggarai
yang saya hormati dan cintai.
ABSTRAKSI
Laporan ini adalah hasil penelitian tentang dampak perkembangan
komersialisasi tenunan songke terhadap masyarakat Manggarai di Pulau
Flores, NTT. Kesimpulannya berdasarkan pengalaman peneliti, yang tinggal
selama enam minggu di daerah tersebut pada bulan September-Oktober
2002 untuk melakukan studi lapangan. Selama jangka waktu tersebut peneliti
mengunjungi
penenun dan keluarga mereka. Laporan ini merupakan studi kasus para
penenun dari kampung-kampung di
antropolog ini adalah dampak komersialisasi tenunan songke terhadap
masyarakat Manggarai yang terlihat dari segi sosial, ekonomi dan politik.
Walaupun proses komersialisasi ini masih baru tetapi sudah terlihat dampak
yang cukup signifikan, khususnya terhadap sebuah kelompok tertentu dalam
masyarakat yaitu kaum perempuan.
KATA PENGANTAR
LATAR BELAKANG
Pada tahun 2002 saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Program
ACICIS (Australian Consortium for In-Country Indonesian Study) di Indonesia.
Sebagai bagian dari program belajar ini saya diharapkan melakukan studi
lapangan selama satu semester. Minat saya pada beberapa hal seperti
kehidupan masyarakat pedesaan, kesetaraan gender, dampak modernisasi
terhadap masyarakat tradisional dan juga pada tekstil membuat saya memilih
pergi ke Pulau Flores untuk tugas tersebut.
Saya mulai tertarik pada melakukan studi lapangan di Flores, yang terletak di
propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada waktu saya berlibur di
bulan Juli tahun 2002. Selama satu bulan saya melakukan perjalanan dari
Maumere (Flores Timur) sampai Labuan Bajo (Flores Barat). Pulau Flores
dan juga pulau-pulau di sekitarnya terkenal sekali dengan kerajinan tenun.
Pada dasarnya, ada dua macam tenunan di Flores: Flores Timur terkenal
dengan kain ikatnya, dan Flores Barat dengan kain songkenya. Karakteristik
dan juga cara pembuatan dua jenis kain ini sangat berbeda.
Tenunan yang paling menarik bagi saya adalah tenunan songke yang dibuat
di Kabupaten Manggarai di Flores Barat. Waktu berlibur di
sebentar di Pagal, pusat Kecamatan Cibal di Kabupaten Manggarai. Saya
pernah mendengar bahwa ada seorang perempuan yang mempunyai
kelompok tenun di Pagal. Ternyata saya bisa bertemu dengan Tante Nela,
yang pemilik kelompok tenun itu. Pada kesempatan itu dia menyatakan
keinginannya untuk membantu saya dengan penelitian saya. Walaupun
hanya dua hari saya tinggal di daerah tersebut tetapi sudah cukup membuat
saya jatuh cinta pada daerah Manggarai: pemandangannya, tenunan
songkenya dan khususnya, penduduknya.
Satu setengah bulan kemudian, saya kembali ke Manggarai untuk memulai
studi lapangan saya. Saya tiba dan mulai penelitian saya di
tanggal 15 September tahun 2002 dan mengakhiri penelitian saya pada
tanggal 24 Oktober tahun 2002. Pertama-tama saya menginap beberapa
malam di rumah Tante Nela di Pagal. Sebelum masuk kampung1 saya harus
ambil bagian dalam ‘acara potongan ayam’2 yang dilakukan untuk meminta
perlindungan Tuhan dan para leluhur supaya tidak ada kesulitan atau
gangguan selama kunjungan saya di
kampung.
Pertama kali saya masuk kampung saya diantar Tante Nela. Dia
memperkenalkan saya kepada banyak orang di beberapa kampung,
khususnya anggota kelompok tenunnya. Inisiatif tante Nela ini ternyata
sangat bermanfaat untuk penelitian saya. Di daerah ini ada yang belum
pernah melihat orang kulit putih sehingga kehadiran saya membuat mereka
takut. Namun sebagai ‘anak’ Tante Nela, saya cepat diterima dan diundang
untuk datang kembali. Hal ini membuat saya berani untuk berjalan-jalan
sendirian dari kampung ke kampung. Selama enam minggu, saya berhasil
mengunjungi
mereka. Dengan observasi langsung ini, saya dapat melihat sendiri
bagaimana kehidupan masyarakat pedesaan di daerah Manggarai.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian antropolog. Untuk studi lapangan ini saya
tinggal di daerah Manggarai selama enam minggu. Pertama kali saya ke
kampung di daerah ini, saya diantar pemuka masyarakat setempat yang
dikenal dan dihormati di daerah itu. Tindakan ini membuat saya cepat
diterima dan dipercayai di lingkungan masyarakat setempat. Metode yang
saya gunakan adalah Observasi Partisipartif yaitu keterlibatan langsung
dalam kegiatan sehari-hari penduduk setempat. Melalui proses tersebut saya
berkenalan dan melihat secara langsung kehidupan orang di daerah ini. Saya
melalukan wawancara dengan penduduk setempat, yaitu wawancara bebas
yang bersifat tidak begitu formal dan tidak terstruktur. Wawancara semacam
ini dimaksudkan supaya informan-informan saya tidak merasa malu atau
1 Di daerah Manggarai penduduk menggunakan istilah 'kampung' yang berarti 'dusun' atau
'desa'. Karena itu saya juga akan menggunakan kata 'kampung' di laporan ini. Pagal tidak
dipanggil ‘kampung’, mungkin karena Pagal adalah ibukota kecamatan yang mempunyai lebih
banyak fasilitas dan tidak seterpencil dengan kampung-kampung di sekitarnya.
2 ‘Acara potongan ayam’ adalah istilah yang dipakai di Manggarai. Artinya ‘upacara pemotongan
ayam’.
takut. Kami berbicara sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga seharihari
seperti memasak, mengambil air dan mencuci piring. Sementara mereka
menenun, saya bertanya. Jawaban mereka saya ingat-ingat saja dan nanti
kalau wawancara sudah selesai, saya mencatat semua hasil pembicaraan
kami. Bentuk wawancara-wawancara ini mirip pembicaraan biasa sehari-hari.
Cara ini membuat informan saya menjadi sangat terbuka dan informatif.
Saya lebih suka mewawancarai mereka satu per satu. Ini dilakukan supaya
mereka tidak merasa malu. Di samping itu, meskipun sebagian besar
penduduk kampung cukup lancar berbahasa
memakai bahasa Daerah (bahasa Manggarai) kalau dalam satu kelompok.
Tape recorder tidak saya pakai karena saya memikir informan mungkin
merasa curiga karena belum pernah melihat mesin seperti itu.
Setelah wawancara saya cross-check (uji-silang) datanya dengan informaninforman
lain. Walaupun saya membaca beberapa buku dan artikel untuk
melengkapi penelitian saya, tetapi sebagian besar waktu dari penelitian saya
ini saya ada di lapangan. Karena itu kesimpulan yang saya dapatkan banyak
berdasarkan pengalaman saya di lapangan.
KESULITAN DI LAPANGAN
kesulitan yang bersifat fisik, misalnya fasilitas yang kurang, masalah sarana
transportasi dan komunikasi, dan penyakit. Letak tempat penelitian sangat
terpencil dengan fasilitas yang sangat sederhana. Makanan dengan nilai gizi
yang rendah menjadi masalah untuk saya. Selama enam minggu saya hanya
makan nasi dengan daun singkong, mie rebus dan beberapa kacang goreng.
Waktu saya tinggal di
pisang atau buah-buahan lain. Daerah Manggarai terkenal dengan kopi yang
enak sekali, sehingga saya diharuskan minum kopi tanpa putus! Meskipun
saya selalu minta air saja tetapi selalu diberikan kopi karena tuan rumah
selalu merasa kurang menghormati tamunya kalau kasih air saja. Ini
membuat saya sering sakit kepala! Penyakit seperti malaria juga menjadi
persoalan yang lain bagi saya. Untuk menghindari terinfeksi malaria, saya
selalu harus sangat hati-hati menghindari gigitan nyamuk.
yaitu kaum perempuan, di dalam penelitian. Masyarakat Manggarai adalah
masyarakat patriarkal. Kaum perempuan biasanya berkesan malu untuk
berbicara dengan ‘orang luar’ dan cenderung tinggal di dapur saja. Untuk bisa
diterima dan mendapat kepercayaan mereka, saya harus tinggal lama di satu
kampung. Namun, tentu saja enam minggu tidak cukup untuk benar-benar
bisa diterima sebagai salah satu dari mereka.
Bahasa merupakan persoalan yang lain. Walaupun hampir semua penduduk
bisa berbahasa
percakapan yang bersifat informal. Ini menjadi masalah yang cukup besar. Di
samping itu, saya merasa bahasa Indonesia saya belum cukup untuk
berkomunikasi dengan sangat baik.
Jarang ada orang kulit putih yang datang ke daerah ini. Karena itu saya
selalu dikelilingi anak-anak kecil yang menonton saya makan, mandi bahkan
tidur! Karena ini terjadi sepanjang hari, dan setiap hari, pengalaman ini
menjadi pengalaman yang sangat melelahkan! Walaupun saya merasa
bahwa saya diterima di
akan dianggap ‘orang luar’.
Secara pribadi, yang paling susah bagi saya mungkin adalah melihat begitu
miskinnya penduduk di daerah ini. Daerah NTT memang termasuk daerah
yang paling miskin di
yang kaya raya. Melihat perbedaan ini yang paling sulit, apalagi melihat anakanak
kecil yang menderita malaria atau penyakit lain.
Walaupun kunjungan saya ke Manggarai merupakan tantangan besar bagi
saya, tetapi juga menjadi petualangan yang hebat. Pengalaman saya di
Manggarai sangat berkesan di hati saya. Informan-informan saya bukan
hanya informan, mereka menjadi keluarga saya yang saya cintai dan hormati.
UCAPAN TERIMA KASIH
Saya ingin menghaturkan terima kasih kepada banyak orang. Tanpa
pertolongan dan dorongan mereka, pengalaman saya di Manggarai dan
kemudian laporan ini pasti tidak jadi.
Pertama-tama, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesarbesarnya
kepada seluruh warga Ruteng, Pagal, Laci, Barang, Cumpe, Rinkas
dan Lale yang menerima saya dengan tangan terbuka. Khususnya Tante
Meri, Tante Mina, Tante Fabi, Tante Is,
Tante Eti, Tante Maria Ridan, Tante Maria Imin, Tante Adel, Mama Tua di
Bea Mese, Mama Yul, Tante Yul, Tante Erna, Tante Pi, Tante Pau, Mama
Teres dan Om Kasmir. Terima kasih banyak!
Saya sangat berhutang budi kepada Tante Nela sekeluarga di Pagal. Tante
Nela menjadi orang pertama yang mengundang saya datang lagi ke
Manggarai untuk meneliti masyarakat Manggarai, sesudah kunjungan
pertama saya ke daerah tersebut. Dia yang memperkenalkan saya dengan
masyarakat kampung, menyediakan tempat tidur bagi saya di rumahnya, dan
selalu dengan senang hati membantu memberikan informasi. Terima kasih
kepada Missy, teman sekamar, dan Yoga untuk memberikan sebagian dari
ubi kayunya kepada saya setiap hari!
Juga Ibu Anny sekeluarga di Ruteng untuk menyediakan tempat aman dan
sepi di Ruteng di mana saya bisa bersantai bersama anak-anaknya, Delby
dan Refy. Ibu Anny selalu senang berdiskusi dan menjelaskan apa saja yang
saya tanyakan.
Terima kasih kepada Ibu Maria Moe, Ketua Yayasan ‘Tunas Jaya’ di Ruteng,
atas waktunya. Juga para pegawai di kantor-kantor pemerintah di Ruteng dan
Pagal atas pertolongannya.
Saya menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya pula kepada Pak
Yoost, Direktur Program ACICIS di Yogyakarta, atas antusiasmenya yang
besar. Juga semua mahasiswa ACICIS dari angkatan Semester 14 atas
dukungan moril, khususnya untuk Petra Mahy, atas ide-idenya yang
memberikan banyak inspirasi kepada saya.
Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Ibu Tutik, dosen pembimbing
saya di Universitas Muhammadiyah
Program ACICIS di Malang. Tidak lupa juga, terima kasih saya pada tim
ACICIS di UMM.
Kepada Ibu Sylvia Kurniawati di Surabaya yang menyediakan waktu untuk
berdiskusi dan memberikan informasi dan satu kopi skripsinya tentang
tenunan di Manggarai, saya menghaturkan terima kasih. Kepada Catherine
Allerton di Inggris dan Maribeth Erb di Singapur, atas perhatian, nasihat dan
pertolongannya, saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya.
Terima kasih pula kepada Mbak Erny di Malang. Walaupun saya hanya
sebentar tinggal di rumah kosnya di
sendiri.
Di Australia saya ingin berterima kasih kepada Pak George Quinn di ANU
atas saran-saran yang diberikan, serta Ibu Inez Nimpuno atas perhatian dan
saran-sarannya. Terima kasih kepada Kylie Moloney di NLA dan juga Oliver
Story. Akhirnya, terima kasih kepada keluarga saya di
memberikan dukungan moril dan saran.
CATATAN
Proses komersialisasi tenunan adalah sebuah fenomena yang masih baru
dan karena itu, dampak jangka panjang dari komersialisasi tenunan ini belum
terlihat jelas. Karena waktu penelitian di lapangan sangat pendek, yaitu
hanya enam minggu, dan karena saya menggunakan pendekatan yang
bersifat antropologis, hasil penelitian ini hanya berdasarkan informasi yang
saya dapat dari sampel yang kecil. Penelitian ini merupakan studi kasus yang
dilaksanakan selama studi lapangan saya pada bulan September dan
Oktober tahun 2002.
Di dalam laporan ini saya berencana untuk memasukkan sebanyak mungkin
cerita pribadi dari informan saya. Karena insiden bom di
cepat pulang ke
untuk mengumpulkan semua cerita yang ingin saya masukkan dalam laporan
ini. Meskipun kebanyakan cerita pribadi yang dicatat berasal dari para
penenun yang anggota kelompok tenun, hasil penelitian saya mewakili
semua penenun, baik yang anggota kelompok tenun maupun yang bukan.
Oleh karena alasan-alasan tersebut, hasil penelitian saya mungkin tidak
lengkap. Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna
sehingga banyak kesalahan atau kekurangan yang terjadi. Sumbangan saran
dan kritik akan saya terima dengan senang hati. Mudah-mudahan penelitian
ini bisa saya teruskan di masa mendatang.
Peneliti
ULLA KEECH-MARX
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAKSI …………………………………………………………………... i
KATA PENGANTAR …………………..…………………………………….. ii
DAFTAR ISI …….…………………………………………………….……….. ix
I. PENDAHULUAN ………………………………………………………. 1
1.1 Kecamatan Cibal di Kabupaten Manggarai .……………….…… 1
1.2 Tenunan Songke di Daerah Manggarai ..……………………….. 5
II. KOMERSIALISASI TENUNAN SONGKE …………………………… 8
2.1 Penyebab Timbulnya Komersialisasi Tenunan Songke ………. 9
2.2 Dua Jenis Penenun di Daerah Penelitian ………………………. 10
i)
ii) Para Penenun Anggota Kelompok Tenun …………………… 11
2.3 Pasaran untuk Tenunan Songke ………………………………… 13
III. CERITA-CERITA PRIBADI ……………………………..…………….. 15
3.1 Penenun Anggota Kelompok Tenun Sinar Kencana ………….. 15
i) Tante Meri ...…………………………………………………….. 15
ii) Tante Mina ……………………………………………………… 16
iii) Tante Fabi ……………………………………………………… 16
iv) Tante Maria …………………………………………………….. 17
v) Mama Is dan Om Ben …………………………………………. 18
vi) Mama Lyn ………………………………………………………. 18
vii) Tante Lyn dan Tante Eti ……………………………………… 19
viii) Mama Yul ……………………………………………………… 19
ix) Tante Erna ………………………………………………………20
3.2 Penenun Bukan Anggota Kelompok Tenun …………………….. 20
i) Mama Tua ………………………………………………………... 20
ii) Om Njellu ………………………………………………………… 21
IV. HASIL PENELITIAN …………………………………………………….. 25
4.1 Dampak Sosial ……………………………………………………… 25
4.2 Dampak Ekonomi .………………………………………………….. 30
4.3 Dampak Politik ……………………………………………………… 31
V KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………………... 32
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………. 34
LAMPIRAN ……………………………………………………………………… 35
i) Surat Ijin Penelitian dari UMM………………………………………. 35
ii) Surat Rekomendasi dari Kantor Camat Cibal ……………………. 36
iii) Surat Rekomendasi dari Badan Kesatuan Bangsa, Ruteng …… 37
iv) Surat Keterangan dari Ibu Kornelia Ridung (Tante Nela) ……… 38
v) Peta Indonesia …………………………………………………….… 39
vi) Peta Propinsi Nusa Tenggara Timur, NTT …..…………………… 40
vii) Peta Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, NTT ………………… 41
viii) Peta Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai ………………… 42
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Kecamatan Cibal di Kabupaten Manggarai
Studi lapangan ini dilaksanakan di Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai,
Pulau Flores bagian Barat, di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).3 Luas
wilayah Cibal 167,3 kilometer persegi dengan kepadatan penduduk rata-rata
166,02 per kilometer persegi.4 Penduduknya rata-rata 35 ribu jiwa.5 Wilayah
Cibal berbatasan sebelah utara dengan Kecamatan Reo, sebelah timur
dengan wilayah Lambaleda, di sebelah barat dengan Kecamatan Kuwus,
serta di sebelah selatan dengan wilayah Ruteng. Ada 26 Desa di Kecamatan
Cibal tetapi saya hanya melakukan penelitian di
merupakan ibukota kecamatan Cibal, Perak (8km dari Pagal), Golo (4km dari
Pagal), Barang (6km dari Pagal) dan Bea Mese (9,3km dari Pagal).6 Di desadesa
tersebut saya memakan waktu di kampung-kampung yang berikutnya:
Laci, Cumpe, Rinkas, Lale dan Barang.
Kecamatan Cibal termasuk daerah pegunungan yang berbatu. Untuk
mencapai lokasi desa-desa tersebut, kita bisa naik kendaraan umum dari
Ruteng (Ibukota Kabupaten Manggarai) selama satu jam, kemudian satu
sampai tiga jam berjalan kaki. Baru ada kendaraan umum (sejenis truk) yang
sehari sekali masuk ke daerah tersebut. Jalan terdiri dari batu atau tanah liat
yang bahkan seringkali rusak berat sehingga perjalanannya memakan
banyak waktu. kalau kita naik truk dari Barang misalnya, akan memakan
waktu kira-kira satu jam; kalau kita berjalan kaki, akan membutuhkan waktu
kira-kira satu setengah jam saja. Kalau musim hujan kondisi jalan cukup licin
dan berbahaya.
licin. Saya lebih senang berjalan kaki karena jauh lebih menyenangkan!
3 Lihat peta h. 42.
4 Ngonde, Sylvia Kurniawati, Pemanfaatan Tenun Songke pada Masyarakat Manggarai: Studi
Deskripsi di Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara
Timur, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga,
5 Kantor Statiskik Kabupaten Manggarai, Kecamatan Cibal Dalam Angka 2000, Badan Pusat
Statistik (BPS), Manggarai, 2001, h. 11.
6 Kantor Statiskik Kabupaten Manggarai, Kecamatan Cibal Dalam Angka 2000, h. 8.
Daerah penelitian saya ini sangat terpencil dan infra struktur di daerah ini
sangat sederhana dan terbatas. Tidak ada listrik atau telepon. Tidak ada
radio apalagi televisi. Penduduknya mandi dan mencuci pakaian di kali dan
mengambil air minum dari
yang sering muncul termasuk kolera, disentri, bermacam-macam penyakit
kulit dan malaria. Kenyataan ini berkaitan dengan kebersihan lingkungan
tempat tinggal yang kurang baik. Penduduk sering tidak mempunyai uang
untuk membeli obat atau pergi berobat ke Puskesmas Pagal.
Meskipun ada beberapa SD di desa-desa yang saya kunjungi, tetapi belum
ada SMP atau SMA di kampung-kampung. Kalau mau melanjutkan sekolah
anak-anak harus ke Pagal (SMP) atau ke Ruteng (SMA). Kebanyakan anak
masuk SD, tetapi rata-rata 50% dari mereka tidak menamatkan SD atau tidak
melanjutkan ke tingkat berikutnya.7 Kalau mereka melanjutkan ke tingkat
sekolah menengah, misalnya SMP di Pagal, mereka harus berjalan kaki
cukup jauh dari kampungnya, atau kos di Pagal dengan biaya yang cukup
mahal.
Masyarakat Manggarai adalah masyarakat patriarkal, maksudnya status
kaum perempuan ada di bawah status kaum laki-laki. Kaum laki-laki adalah
pihak yang menerima warisan dan bertindak sebagai pengambil keputusan
dalam urusan rumah tangga. Anak laki-laki lebih dihargai daripada anak
perempuan dan secara tradisional, perempuan merasa malu kalau tidak bisa
melahirkan anak laki-laki. Istilah yang dipakai untuk anak perempuan adalah
‘anak luar’, yaitu anak yang tidak dianggap sebagai salah satu anggota
keluarga, karena anggapan bahwa anak perempuan akan meninggalkan
keluarganya untuk mengikuti suaminya segera sesudah menikah.
Kesan saya, orang Manggarai adalah orang yang baik hati dan senang sekali
menerima tamu. Sebagian besar penduduk kampung taat beragama Katolik.
7 Ngonde, Pemanfaatan Tenun Songke pada Masyarakat Manggarai, h. 42.
Pater (yang berasal dari Jawa) mengunjungi desa-desa sekitarnya untuk
berkhotbah. Warga kampung juga masih menjalankan kegiatan ritual
tradisional dan mengikuti kepercayaan nenek moyangnya, misalnya apacara
pemotongan kerbau atau ayam (seperti acara pembersihan yang saya ikuti).
Daerah Cibal adalah daerah pertanian subsisten (subsistance farming).
Pekerjaan di bidang pertanian merupakan kegiatan utama yang dilakukan
sebagian besar kaum laki-laki di
berlokasi di atas bukit, dan tanah pertaniannya ada di bawah. Hasil utama
pertanian adalah padi, jagung, kacang tanah dan ubi kayu. Sedangkan hasil
utama perkebunan adalah kopi, kemiri, jambu mente, cengke dan vanili. 8
Masa tanam dimulai bulan Januari pada musim hujan. Musim panen mulai
bulan Juni untuk padi sampai dengan awal bulan Agustus untuk kopi, kemiri,
cengkeh dan lain-lain. Pada bulan Oktober kalau musim hujan sudah mulai,
warga akan disibukkan kembali dengan menanam jagung, yang akan
dipanen pada bulan Januari atau Februari.
Secara tradisional, setiap hari petani turun ke bawah untuk bekerja di kebun.
Mereka bekerja sepanjang hari dan pulang pada sore hari membawa daun
dan sayur untuk dimakan keluarganya. Saat musim panen, kaum perempuan
dan anak-anak membantu di kebun, lain dengan hari-hari biasa di mana
biasanya mereka tinggal di rumah saja. Secara tradisional kaum perempuan
bekerja di rumah termasuk mengurus anak-anak, memasak dan menenun.
1.2 Tenunan Songke di Daerah Manggarai
8Pemerintah Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai dalam Aneka Persona dan
Peluang Investasi, Pemerintah Kabupaten Manggarai, Manggarai, 2000, h. 8.
Wilayah Cibal termasuk daerah yang terkenal dengan tenunannya. Katanya
tradisi tenun dibawa ke NTT oleh pedagang Islam kira-kira pada abad ke-16.9
Tenunan songke adalah tenunan khas daerah Manggarai. Cara
pembuatannya mirip tenunan songket dari Sumatra.10 Karakteristik tenunan
songke itu lain daripada tenunan ikat yang terkenal yang berasal dari
Timur dan Pulau Sumba. Warna dasar kain songke hitam sedangkan
motifnya berwarna-warni11. Walaupun Cibal terkenal dengan kerajinan
tenunannya, tetapi tidak semua desa di kecamatan Cibal merupakan daerah
tenunan. Hanya beberapa desa di
songke. Banyak desa di Kecamatan Cibal di mana penduduknya tidak tahu
sama sekali menenun. Namun desa-desa di daerah penelitian saya, seperti
Bea Mese, Perak, Golo dan Barang semuanya termasuk daerah tenun.
Secara tradisional, hanya kaum perempuan yang boleh menenun. Mereka
baru boleh belajar menenun kalau sudah mendapat menstruasi pertamanya.
Kebanyakan belajar dari ibunya atau kakak perempuannya yang sudah tahu
menenun. Dulu, kaum perempuan menenun untuk mengisi waktu luang saja.
Mereka membutuhkan waktu kira-kira enam bulan untuk membuat benang,
mencelup benang dengan pewarna dan lain sebagainya. Kemudian mereka
mulai menenun selama ‘musim tenun’, dari bulan Mei sampai Oktober,
setelah musim panen, karena pada musim panen kaum perempuan sibuk
membantu di kebun. Kalau mereka bekerja dengan cepat mereka bisa
menyelesaikan dua lembar kain dalam satu tahun. Kain itu dipakai sendiri
atau untuk upacara adat seperti pernikahan. Memang situasi ini sudah
berubah.
9 Ngonde, Pemanfaatan Tenun Songke pada Masyarakat Manggarai, h. 114.
10 Untuk deskripsi teknik pembuatan tenun songke lihat Ngonde, Pemanfaatan Tenun Songke
pada Masyarakat Manggarai, h. 129-145.
11 Untuk descripsi arti motif dan jenis tenunan songke lihat Ngonde, Pemanfaatan Tenun
Songke pada Masyarakat Manggarai, h. 115-126.
BAB II KOMERSIALISASI TENUNAN
SONGKE
Secara tradisional, penduduk Manggarai hidup dari hasil perkebunan dan
pertanian saja. Kira-kira 15 tahun yang lalu mulai ada perubahan. Tenunan
songke mulai menjadi barang komersial, maksudnya masyarakat Manggarai
di daerah tenun mulai membuat tenunan songke khusus untuk dijual.
Saat ini, hampir semua hasil tenunan songke di wilayah Cibal dibuat untuk
dijual. Yang disimpan sedikit sekali dan biasanya hanya dipakai untuk
upacara adat. Sarung tradisional jarang dipakai lagi untuk pakaian seharihari.
Pada masa kini hampir semua perempuan di daerah penelitian yang di
atas umur 13 tahun tahu cara menenun. Menenun menjadi pekerjaan pokok
bagi kaum perempuan. Tidak ada ‘musim tenun’ lagi karena para penenun
menenun sepanjang tahun. Yang ditenun untuk dijual biasanya sarung
tradisional dan selendang.
Baru-baru ini, kelihatanya sejak krisis moneter, ada beberapa laki-laki yang
mulai menenun juga. Namun jumlahnya masih sedikit sekali karena
pekerjaan ini masih dianggap pekerjaan kaum perempuan.
mereka duduk di bawah mulai pagi sampai malam. Biasanya mereka mulai
bekerja kira-kira jam 8 pagi, setelah menyelesaikan kesibukan menyediakan
makan pagi untuk keluarganya, sampai kira-kira jam 6 sore (waktu matahari
mulai terbenam). Biasanya mereka bangun dari posisi duduknya beberapa
kali untuk beristirahat, mengurus anak-anak, menyediakan makanan atau
melakukan tugas rumah tangga lain. Dalam waktu satu jam, mereka bisa
menghasilkan tenunan selebar kurang lebih empat sampai enam cm. Kalau
dikerjakan dengan cara seperti ini mereka bisa menghasilkan rata-rata
selembar kain setiap dua bulan, atau enam lembar kain setahun. Pada masa
kini para penenun cenderung meningkatkan kreativitas mereka untuk
membuat jenis tenun yang akan menarik minat pembeli daripada menenun
dengan motif tradisional.
supaya pekerjaan mereka tidak terlalu membosankan. Walaupun demikian
mereka juga harus berkonsentrasi pada pekerjaan mereka karena motif dan
desain yang mereka kerjakan sering rumit dan kompleks.
2.1 Penyebab Timbulnya Komersialisasi Tenunan Songke
songke.
Yang pertama, harga hasil panen tidak stabil dan cenderung turun,
tergantung harga komoditas di pasar dunia. Petani di daerah penelitian saya
menyebutkan bahwa zaman dulu harga kemiri bisa mencapai Rp. 7000/kilo
atau kira-kira hampir A$1.50 (sekarang Rp. 5000/kilo = A$ 1.00) dan harga
kopi masih Rp. 20000/kilo atau A$4.00 (sekarang hanya Rp. 3500/kilo =
A$0.50). Perubahan harga komoditas tersebut sangat terasa petani di daerah
penelitian.
Yang kedua, tanah di daerah Manggarai tidak begitu subur lagi akibat banyak
penanaman yang dilakukan hanya untuk hasil bumi untuk perdagangan
(cash-cropping).
kemarau panjang sehingga hasil panen berkurang yang menyebabkan
pendapatan petani turun juga.
Yang ketiga, biaya hidup yang naik terus-menerus karena keadaan
perekonomian negara yang kurang baik.
Yang terakhir adalah munculnya kebutuhan baru akibat kehidupan modern
yang tidak terhindarkan, misalnya uang yang dibutuhkan untuk pakaian dan
kosmetik. Masa kini kebanyakan warga kampung memakai pakaian barat
yang harus dibeli daripada pakaian tradisional yang bisa dibuat sendiri. Di
samping itu ada kebutuhan untuk biaya pendidikan (sekarang ada harapan
bahwa semua anak akan bisa bersekolah) dan juga uang transportasi (baru
ada kendaraan yang masuk ke kampung. Dulu warga kampung terpaksa
berjalan kaki tetapi sekarang bisa naik truk.) Semua ini yang merupakan hasil
modernitas memerlukan uang.
Empat alasan ini membuat hasil pertanian tidak dapat lagi mencukupi
kebutuhan ekonomi orang Cibal. Penduduknya terpaksa mencari cara lain
untuk menghasilkan uang dan menambah pendapatan keluarganya. Kalau
hanya menunggu panen, mereka akan mendapatkan uang dua kali setahun,
tetapi kalau menenun, mereka bisa mendapatkan uang setiap dua bulan.
Karena alasan-alasan tersebut, mulai ada proses komersialisasi tenunan
songke.
2.2 Dua Jenis Penenun
Secara umum, pada masa kini ada dua jenis penenun di daerah penelitian.12
sendiri. Secara umum, keadaan warga di wilayah Cibal berbeda-beda
tergantung kalau penenun tersebut menjadi anggota kelompok tenun atau
tidak. Dampak komersialisasi terhadap orang-orang tersebut juga tergantung
kalau mereka menjadi anggota kelompok tenun atau tidak. Karena itu,
penting sekali membedakan dua jenis penenun ini.
i)
Kebanyakan penenun di daerah penelitian bekerja menenun sendiri.
penenun dari grup ini harus membeli benangnya dari toko, (tersedia di
Ruteng, Pagal dan di kios kecil di setiap kampung), harganya kira-kira Rp. 70
000 (A$14.00) untuk satu sarung (4 meter). Shampoo juga harus dibeli untuk
12 Saya menyadari beberapa LSM di Ruteng, misalnya Yayasan Tunas Jaya, yang mengatur
program-program untuk membina ketrampilan para penenun dari kampung, misalnya kursus
penenunan, penjahitan dan sulaman. Yang mengikuti kursus-kursus tersebut mungkin
merupakan satu jenis penenun lain. Namun LSM-LSM ini di luar daerah penelitian dan tidak
termasuk dalam laporan ini.
mencuci benangnya.13 Kemudian seorang penenun menyiapkan benangnya
dan mulai menenun. Waktu yang dibutuhkan kira-kira dua bulan untuk
menyelesaikan satu sarung.
Kalau sarung itu dipesan oleh teman atau saudara (yang biasanya tinggal di
penjualan yang telah disetujui oleh kedua pihak. Kalau pesanan, biasanya
ada batasan waktu dan harganya lebih mahal. Kalau tidak ada pesanan, hasil
tenun itu harus dibawa ke pasar Ruteng untuk dijual atau dijual kepada
penjual keliling yang melewati kampung. Biasanya seorang penenun
mendapat uang sekitar Rp. 100 000 (A$20) sampai Rp. 150 000 (A$30) untuk
satu sarung, tergantung desainnya dan banyaknya tenunan yang dipasarkan
(demand and supply). Untuk penenun yang membutuhkan uang segera dan
harus menjual hasil tenunannya secepat mungkin, harganya pasti lebih
rendah.
Kalau sarungnya sudah dijual, seorang penenun akan membeli benang lagi
dan prosesnya mulai dari awal lagi. Untuk pekerjaan selama dua bulan
seorang penenun akan mendapat sekitar Rp. 20 000 (A$4.00) sampai Rp. 70
000 (A$14.00) saja untuk dia sendiri. Biasanya untuk yang bukan anggota
kelompok tenun, para penenun jarang mendapakan untung yang nyata
karena uang penjualan hasil tenunnya hanya cukup untuk membeli benang
kembali.
ii) Para Penenun Anggota Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’
Salah satu bukti adanya proses komersialisasi tenunan songke adalah
perkembangan beberapa kelompok tenun yang mulai bermunculan di
Kecamatan Cibal. Di setiap kelompok tenun, ada ketua yang mengurus
administrasi dan mencari langganan, serta beberapa anggota kelompok yang
menenun. Ketua kelompok menerima pesanan dan memberikan instruksi
kepada penenun di kampung.
Di daerah penelitian ada sebuah kelompok tenun, namanya Kelompok Tenun
‘Sinar Kencana’.
13 Sisir yang merupakan bagian perkakas tenun juga harus diganti setiap dua tahun.
penelitian yang menjadi anggota kelompok tenun ini. Kelompok ini, yang
pusatnya di Pagal, didirikan Tante Nela pada tahun 1990. Tante Nela sudah
lama tertarik pada masalah kesetaraan gender, khususnya keadaan
perempuan di Manggarai. Tujuannya membentuk kelompok tenun ini adalah
untuk memperdayakan kaum perempuan di Kabupaten Manggarai dan pada
waktu yang sama juga melestarikan pengetahuan tenunan tradisional.
Di kelompok ini, Tante Nela menerima pesanan, biasanya dari orang
Manggarai yang cukup kaya yang tinggal di Ruteng,
Sering dia menerima pesanan untuk sarung serta kain yang akan dijahit
dibuat pakaian. Tante Nela sendiri yang membuat desain yang unik, lalu
menentukan warnanya. Kemudian desain bersama dengan benangnya
dikirim ke kampung dan diberikan kepada seorang anggota kelompok yang
mempunyai waktu untuk menenunnya. Kalau sudah selesai, hasil tenunnya
diambil Tante Nela dan penenun tersebut menerima uang untuk kerjanya.
Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’ merupakan kelompok tenun yang
‘eksklusif’ karena anggota-anggotanya mempunyai ketrampilan yang
istemewa yaitu mereka bisa membaca gambar motif. Mereka membuat kain
yang berkualitas tinggi dan unik motifnya. Mereka memakai benang yang
cukup mahal, bahkan tiga kali lebih mahal dari benang yang biasanya dipakai
para penenun di kampung. Tante Nela selalu memberikan batasan waktu
untuk menyelesaikan tenunan pesanan. Karena hal-hal tersebut Tante Nela
bisa mendapatkan harga yang cukup baik untuk hasil tenunnya.
Tante Nela yang menyediakan benang kepada anggota kelompoknya dan
mendapat pesanan untuk mereka. Ini berarti mereka tidak perlu membeli
benang sendiri atau pergi menjual hasil tenunnya di pasar. Mereka dibayar
untuk kerja menenun mereka saja, lain dengan para penenun bukan anggota
kelompok tenun. Karena itu, jelas bahwa anggota kelompok tenun lebih
berhasil dalam pekerjaannya dibandingkan dengan para penenun yang
bekerja menenun sendiri.
2.3 Pasaran untuk Tenunan Songke
Secara umum, kelihatannya ada tiga kelompok orang yang membeli songke.
Yang pertama, orang Manggarai yang tinggal di Ruteng, yang cukup kaya. Di
(fashion item). Yang kedua, orang Manggarai dari kampung yang bukan
daerah tenun yang memerlukan sarung songke untuk upacara adat. Yang
ketiga, turis yang datang ke Ruteng. Tiga kelompok ini merupakan pasaran
untuk tenunan songke.
Terlihat jelas bahwa pasaran untuk tenunan songke sangat terbatas. Hampir
semua tenunan songke dijual di Ruteng atau di daerah lain di Manggarai
yang bukan daerah tenun. Pasarannya masih terbatas pada pasar lokal saja
yang belum diperluas. Belum ada tenunan Manggarai yang dijual di toko-toko
di Jakarta atau Bali apalagi di luar
Ternyata ada lebih banyak penenun daripada pembeli kain songke. Karena
itu harga kain songke cenderung tetap rendah. Kadang-kadang selembar
kain bisa mencapai harga jual yang cukup baik, misalnya tenunan yang
dihasilkan oleh Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’. Penyebabnya adalah
bahwa kain tersebut berkualitas tinggi dan unik motifnya. Namun pasaran
untuk kain tersebut juga sangat terbatas karena hanya orang kaya dari
Manggarai yang mampu dan ingin membelinya. Pada umumnya, para
penenun mendapatkan uang sedikit sekali untuk hasil tenun mereka.
BAB III CERITA-CERITA PRIBADI
Waktu saya di Manggarai saya banyak berbicara dengan warga kampung
tentang kehidupan mereka, dan dampak proses komersialisasi tenunan
songke terhadap mereka sendiri serta keluarga mereka. Khususnya dengan
para penenun karena mereka yang terlibat langsung dalam proses
penenunan. Cerita-cerita pribadi yang saya dapat saya tuliskan di bawah ini.14
3.1
i) Tante Meri
Tante Meri berasal dari kampung Renteng di desa Goreng Meni, Kecamatan
Lambaleda (di sebelah timur wilayah Cibal). Tante Meri, yang berumur
duapuluhan, datang dan tinggal di Pagal pada bulan Oktober 1998. Kampung
asalnya jauh sekali dari Pagal. Dia datang ke Pagal karena dia mendengar
proyek tenun akan dimulai di
kampung, maka dia memutuskan pergi bekerja di kelompok tenun yang
dimiliki Tante Nela di Pagal.
Ternyata Tante Meri pintar sekali membuat desain. Karena ini dia sering
diberi pesanan yang cukup rumit (berarti mahal) dan karena itu dia bisa
mendapat cukup banyak uang. Kadang-kadang dia juga menjaga kios kecil
yang dimiliki Tante Nela di Pagal kalau tidak ada pesanan tenun. Dia belum
menikah, jadi penghasilannya itu bisa dipakai sendiri. Kadang-kadang dia
mengirim uang kepada orang tuanya yang masih di kampung tetapi
kebanyakan uang bisa dia simpan untuk masa tua. Tante Meri tidak ingin
cepat menikah. Karena penghasilannya dari pekerjaannya di kelompok
tenun, dia bisa mandiri dan tidak terpaksa untuk cepat menikah.
14 Kebanyakan cerita ini datang dari penenun anggota kelompok tenun ‘Sinar Kencana’. Saya
berencana mengumpulkan cerita dari para penenun lain juga tetapi karena insiden di
pada bulan Oktober 2002, maka pengumpulan cerita tersebut terpaksa dihentikan. Hal ini
menyebabkan tidak ada waktu sehingga bagian ini belum lengkap. Walaupun demikian,
kesimpulan saya berdasarkan pembicaraan dan diskusi baik dengan para penenun anggota
kelompok tenun maupun para penenun bukan anggota kelompok tenun, serta warga
Manggarai lainnya.
ii) Tante Mina
Tante Mina yang juga berumur duapuluhan berasal dari kampung Lando,
desa Lando di Kecamatan Cibal. Dia mulai belajar tenun dari Ibunya waktu
dia berumur 13 tahun. Menurut Ibunya, kemampuan menenun itu yang paling
penting untuk kaum perempuan. Waktu dia berumur 14 tahun, Ibunya
meninggal. Satu tahun kemudian, Bapaknya juga meninggal dunia maka
Tante Mina menjadi yatim piatu pada umur 14 tahun. Karena dia anak
sulung, pada usia yang sangat muda Tante Mina harus bekerja keras di
kebun untuk menghidupi saudara-saudaranya. Karena itu, sekarang dia
sering sakit.
Pada bulan Oktober 2001 Tante Mina datang dan tinggal bersama Tante
Nela di Pagal. Waktu itu, Tante Mina belum bisa membaca gambar desain
yang dibuat Tante Nela tetapi dia cepat belajar and segera menjadi anggota
kelompok tenun Tante Nela. Selama satu tahun Tante Mina berobat di
Puskesmas Pagal dan tidak menenun. Dia hanya membantu sedikit dengan
pekerjaan di rumah karena masih sakit. Tante Nela membayar biaya
pengobatannya selama hampir satu tahun. Akhirnya pada bulan Oktober
2002, Tante Mina hampir sembuh dari penyakitnya dan bisa mulai menenun
lagi.
Karena adanya kelompok tenun ini, yang muncul akibat komersialisasi
tenunan songke, Tante Mina menerima dukungan emosional dan finansial. Di
samping pekerjaannya menenun, Tante Mina juga berkesempatan pergi ke
puskesmas dan mencari obat supaya dia bisa disembuhkan.
iii) Tante Fabi
Tante Fabi, yang lahir pada tahun 1974, berasal dari kampung Laci, Desa
Perak, Cibal. Kampungnya kurang-lebih berjarak satu jam dari Pagal berjalan
kaki. Tante Fabi, yang tujuh bersaudara, putus sekolah waktu SMP karena
sakit. Dia belajar menenun waktu dia berumur 16 tahun dan menikah secara
adat waktu baru berumur 16 tahun. Dia mengikuti suaminya dan tinggal di
Kecamatan Lambaleda, jauh dari Laci dan keluarganya. Waktu berumur 18
tahun dia jatuh hamil, kemudian menjadi sakit dan lemah sesudah melahirkan
anak laki-lakinya. Karena itu suami Tante Fabi meninggalkan dia dan
mengambil istri lain. Tante Fabi terpaksa pulang kembali ke kampung asalnya
dalam keadaan masih sakit dengan membawa anaknya yang masih bayi.
Sekarang, anaknya tinggal di Laci dengan neneknya dan Tante Fabi tinggal
di Pagal di rumah Tante Nela sebagai penenun. Dalam pekerjaannya,
tangannya cepat sekali sehingga dalam waktu singkat dia bisa cepat
menyelesaikan satu lembar kain. Tante Fabi sangat berhasil dalam
pekerjaannya. Adiknya juga pandai menenun. Sekarang keduanya yang
menghidupi orang tua mereka. Orang tuanya masih bekerja sebagai petani
tetapi hasilnya hanya cukup untuk makan empat bulan.
Satu tahun yang lalu, suami Tante Fabi datang ke Pagal untuk meminta
istrinya, yaitu Tante Fabi, kembali ke rumah, tetapi permintaan ini ditolak
Tante Fabi. Menurut dia, ‘kalau si perempuan sudah mempunyai anak dan
bisa mencari nafkah sendiri, buat apa punya suami?!’. Mengenai jumlah
anak, menurut Tante Fabi ‘satu anak sudah cukup’. 15
iv) Tante Maria
Tante Maria, yang berumur 27 tahun, tinggal di kampung Lale di Bea Mese.
Dia tinggal bersama Ibunya dan 3 anaknya yang berumur 13 bulan, 4 tahun
dan 8 tahun. Ibunya, yang dipanggil Nenek, sudah ditinggalkan suaminya
yang pergi tinggal bersama istri kecilnya, yaitu istri muda, beberapa tahun
yang lalu. Nenek masih bekerja di kebun padahal sudah tua. Tante Maria
mengurus anak-anaknya sendiri, memasak dan menenun. Dia menjadi
anggota kelompok tenun pada tahun 1996. Hasil kerja sama mereka cukup
untuk menghidupi semua anggota keluarga. Menurut Tante Maria, hasil
kebun sama banyak dengan hasil tenun dalam perekonomian keluarga.
Meskipun rumahnya sangat sederhana dan dia harus bekerja keras, tetapi
penghasilannya cukup untuk hidup.
Tante Maria sudah menikah tetapi dipanggil ‘Janda
suaminya bekerja di
15 Tante Fabi, Wawancara, Pagal, 01/10/02
tetapi belum ada satu suratpun atau uang yang sampai. Tante Maria yang
akhirnya ‘menyuruh’ suaminya untuk pergi ke
suaminya tidak bekerja, hanya berjudi dan menghabiskan uang saja. Menurut
tante Maria ‘Biar kalau dia tidak pulang, lebih baik kalau kami sendirian di
sini’16. Menurut Tante Maria, dia tidak memerlukan suaminya lagi.
v) Mama Is dan Om Ben
Mama Is tinggal di Kampung Barang di Desa Barang bersama suaminya
Ben, anak-anak mereka serta orang tua Om Ben. Om Ben adalah pegawai
negri yang bekerja di seksi administrasi di sekolah dasar negeri. Mama Is
adalah ketua para penenun di Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’ karena dia
adalah anggota pertama kelompok tenun ini. Dia masuk kelompok ini pada
tahun 1990 dengan dorongan suaminya. Karena kedudukannya sebagai
ketua para penenun dia mendapat banyak pesanan dari Tante Nela dan
sangat berhasil dalam pekerjaannya.
Sebelum menjadi pegewai negri Om Ben pernah mengalami masa sulit
(‘pernah jatuh’) dalam hidupnya, yaitu waktu dia berjualan kopi. Mama Is
yang menghidupi keluarganya waktu itu. Baru satu tahun yang lalu mereka
berhasil membangun rumah yang besar sekali. Om Ben mengakui bahwa
mereka bisa membangun rumah itu karena penghasilan mereka dari usaha
tenunannya.
vi) Mama Lyn
Mama Lyn berasal dari kampung Lale, Desa Bea Mese, Kecamatan Cibal.
Dia lahir kira-kira pada tahun 1960 dan menikah waktu masih muda. Dia
melahirkan tiga anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Yang perempuan
bisa menenun. Suaminya bekerja sebagai tukang kayu. Mereka memiliki
tanah yang letaknya jauh dari rumah. Hasilnya (beras, jagung dan sayur)
hanya cukup untuk dimakan sendiri.
Walaupun tidak ada hasil kebun untuk dijual, kehidupan keluarga Tante Lyn
tidak terlalu susah dibandingkan dengan keluarga lain di daerah itu karena
ada tiga anggota keluarga yang menenun. Salah satu ukurannya adalah
16 Tante Maria, Bea Mese, Wawancara, 10/10/02.
bahwa mereka memiliki radio. Uang tunai yang dipakai untuk membeli radio
itu mereka dapatkan dari hasilnya.
vii) Tante Lyn dan Tante Eti
Tante Lyn dan Tante Eti adalah anak-anak Mama Lyn. Mereka berturut-turut
berumur 22 dan 20 tahun. Keduanya menamatkan SMP kelas tiga dan
sangat berhasil di sekolah. Walaupun demikian mereka tidak meneruskan
pendidikan mereka dan pulang untuk menenun karena ada ‘krisis uang’
dalam keluarga mereka. Mereka menjadi anggota kelompok tenun pada
tahun 1996 juga.
Mereka mempunyai adik laki-laki, yang masih duduk di kelas 5 SD, yang
berumur 11 tahun.
kakak perempuannya bekerja keras menenun supaya adik mereka bisa tetap
bersekolah.
viii) Mama Yul
Mama Yul berasal dari kampung Rincas, Desa Perak, Cibal. Dia sudah
menikah dan mempunyai dua anak: satu perempuan dan satu laki-laki. Mama
Yul bersekolah sampai kelas 6 SD. Satu tahun yang lalu dia masuk kelompok
tenun.
Dulu, suaminya petani. Tiga tahun yang lalu mereka menjual tanahnya
karena lebih banyak uang yang dikeluarkan untuk mengurus tanah tersebut
daripada uang yang dihasilkan. Karena jelas bahwa hasil kebun itu tidak
beruntung lagi, suaminya menjadi pedagang kain songke dan menjual sarung
dari bahan tenunan songke di kampung-kampung di daerah yang bukan
daerah tenun. Tiga kali sebulan dia pergi menjual kain, dan menghabiskan
waktu 3-4 hari di jalan. Dia masuk bidang songke bersama dengan istrinya.
Sekarang, mereka hidup dari tenunan songke saja. Mereka membeli semua
sayur dan makanan lain dari toko atau pasar.
Anak perempuan Mama Yul, yang berumur 21 tahun, juga bisa menenun
tetapi dia ingin melanjutkan sekolah. Waktu saya di Manggarai dia berangkat
ke
keluarga ini mampu mengirim anak perempuan mereka ke Jawa untuk
belajar. Walaupun keputusan mereka untuk menjual tanah mereka itu
dianggap sangat berisiko, ternyata mereka berhasil. Saya percaya bahwa 10
tahun kemudian, akan ada jauh lebih banyak penduduk yang menjual
tanahnya dan mempercayai hasil tenun saja untuk hidup.
ix) Tante Erna
Tante Erna dari Beamese, yang berumur kira-kira 20 tahun, masih gadis dan
tinggal bersama orang tuanya. Dia bersekolah sampai kelas enam SD tetapi
tidak melanjutkan sekolah karena keluarganya tidak mampu. Dia enam
bersaudara, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Mamanya menenun dan
bapaknya bekerja di kebun. Hasil tenunan dan kebun dijual untuk menambah
penghasilan keluarganya. Menurut Tante Erna, penghasilan mereka tidak
cukup tanpa usaha tenunan Mereka harus menggabungkan dua sumber
penghasilan itu untuk bisa hidup layak.
Tante Erna sudah dua tahun bekerja di kelompok tenun. Hanya dia dari
keluarganya yang masuk karena Mamanya terlalu repot mengurus anak-anak
kecil. Tante Erna senang tinggal di rumah dan menenun, dia tidak ingin cepat
menikah.
3.2
i) Mama Tua
Mama Tua, yang tinggal di Bea Mese, sudah berumur kurang-lebih 50 tahun.
Dia mempunyai tujuh anak, yaitu dua laki-laki dan
satu anak yang masih balita.
sudah menamatkan SD tetapi tidak meneruskan ke tingkat SMP. Nasihat
Mama Tua kepada anak perempuan di kampung adalah begini: ‘Jangan
melanjutkan sekolah, lebih beruntung kalau kamu menenun saja.’17 Mama
Tua menerima pesanan tenun dari keluarga dan teman-temannya di Ruteng.
Di samping
laki-laki. Yang bungsu (15 tahun) sudah satu tahun bekerja di
‘kolam ikan’. Menurut MamaTua, anaknya sudah mengirim Rp. 7 juta dari
‘sudah habis orang yang punya’ dan tidak akan sampai sama sekali.
Anak laki-laki Mama Tua yang lain (umurnya kira-kira 18 tahun) sudah
mencoba pergi ke
sampai di
pulang. Walaupun masalah tersebut, dia ingin mencoba lagi. Soalnya tidak
ada uang lagi, semua sudah dihabiskan untuk membeli tiket kapal seharga
Rp. 1 juta. Sekarang dia menunggu di kampung dan berencana bekerja di
kebun bersama Bapaknya sampai ada cukup uang yang dikumpulkan untuk
membeli tiket kapal lagi. Mama Tua ingin anaknya tinggal di kampung saja
supaya ada yang bisa bekerja di kebun nanti kalau Bapaknya, yang sudah
mulai tua, sudah meninggal. Namun anaknya berpikir bahwa masa depan
tidak akan baik kalau dia menjadi petani saja. Sebenarnya, dia mungkin tidak
akan bisa berangkat lagi karena ongkos kapal yang mahal sekali itu. Mungkin
dia akan terpaksa tinggal di kampung asalnya, yang juga sebuah keadaan
yang sangat membingungkan dan tidak pasti, karena tidak mungkin bisa
menghidupi keluarganya dari hasil kebun saja.
ii) Om Njellu
Om Njellu, yang berumur duapuluhan, berasal dari kampung Rinkas. Dia
adalah seorang penenun laki-laki. Sudah
perempuannya yang mengajar. Dia tidak bekerja di kebun, setiap hari
sepanjang hari dia menenun sebagai penggantinya. Dulu dia menerima
pesanan dari sebuah LSM di Ruteng tetapi sekarang hanya mendapat
pesanan dari teman-teman dan keluarganya. Baru-baru ini ada beberapa
laki-laki seperti Om Njello yang mulai menenun. Yang menarik, dia cenderung
berkelakuan dan diperlakukan seperti perempuan.
17 Mama Tua, Bea Mese, Wawancara, 08/10/02
BAB IV HASIL PENELITIAN
Proses komersialisasi tenunan songke baru dimulai kira-kira 10-15 tahun
yang lalu. Karena masih baru dampaknya baru mulai terlihat sekarang.
Walaupun demikian sudah terlihat dampak yang berarti, dari segi sosial,
ekonomi dan politik.
5.1 Dampak Sosial
Dampak sosial yang mungkin paling nyata adalah perubahan yang terjadi
terhadap kaum perempuan. Yang paling terlihat jelas adalah bagaimana
peran perempuan menjadi lebih besar dalam perekonomian keluarga.
Dengan perubahan ini, perempuan mulai mengalami perbaikan status di
dalam masyarakat. Secara umum mereka lebih dihargai karena bisa
mengambil bagian yang penting dalam perekonomian keluarga. Mereka
sendiri bangga dan lebih menghargai diri karena bisa membantu secara
langsung dalam urusan mencari nafkah.
Di samping itu, dengan perkembangan tersebut, mulai ada kesadaran
tentang permasalahan gender dan feminisme. Walaupun mereka belum
pernah mendengar kata ‘feminisme’ mereka mulai mengerti dan menyetujui
konsepnya. Konsep-konsep feminisme juga mulai diperkenalkan oleh
program pembangunan dari beberapa LSM dan juga pemerintah.
Secara adat, anak laki-laki yang palang dihargai dalam masyarakat
Manggarai. Dulu, sebuah keluarga merasa malu kalau tidak mempunyai anak
laki-laki. Namun sekarang, hal itu tidak begitu penting lagi. Bahkan ada
kecenderungan di mana penghargaan anak perempuan lebih tinggi
dibandingkan dulu. Misalnya dari perspektif ekonomi, anak perempuan
cenderung dilihat sebagai aset keluarga yang berharga dibandingkan dengan
saudara laki-lakinya, karena anak perempuan pandai menenun dan berhasil
mendapatkan uang. Ini terjadi dengan anak-anak perempuan Mama Tua di
Bea Mese yang mendapatkan jauh lebih banyak uang daripada saudarasaudara
laki-laki mereka.18
Di masa kini, beberapa perempuan yang bisa hidup dari usaha sendiri, tanpa
dukungan finansial dari suaminya.19 Misalnya, Tante Maria yang suaminya
ada di
tenunannya. Tante Fabi dan Tante Meri juga bisa mencukupi biaya hidup
mereka dan keluarganya.
dibandingkan dengan dulu. Ini disebabkan perkembangan komersialisasi
tenunan, di mana secara ekonomis perempuan mempunyai peran yang
sangat penting, yaitu sebagai produser.
guna lagi’20. Proses ini mulai menaikkan status kaum perempuan dalam
masyarakat Manggarai. Ini perubahan yang sangat berarti dan penting dalam
perkembangan masyarakat Manggarai dengan adanya perubahan dalam
hubungan kekuasaan (power relations) di tingkat yang paling kecil, yaitu
keluarga.
Dampak negatif terhadap kaum perempuan juga muncul akibat
komersialisasi tenunan songke. Yang pertama, para penenun harus bekerja
keras untuk bisa mendapatkan penghasilan yang cukup. Mereka harus
bekerja dari pagi hari sampai malam hari, di posisi yang tidak nyaman, yaitu
posisi duduk di bawah tanpa bantal atau tikar. Posisi yang sama sepanjang
hari ini membuat mereka sering jatuh sakit, khususnya sakit pinggang dan
sakit mata karena bekerja pada malam hari hanya dengan memakai cahaya
lilin yang kurang terang.
Penenun yang mempunyai suami yang ingin membantu mengurus anak,
memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lain akan sangat
beruntung. Memang ada beberapa suami yang senang membantu istrinya,
tetapi yang sering terjadi adalah bahwa para suami tidak mau. Sehingga,
18
perempuan masih gadis (belum menikah), penghasilan dari tenunannya diberikan kepada
orang tuanya. Sedangkan anak laki-laki bisa memakai uang yang didapatkan untuk
keperluannya sendiri.
19 Yang bisa hidup dari usaha sendiri biasanya anggota kelompok tenun yang bisa
mendapatkan harga yang cukup baik untuk penjualan tenunannya.
20 Tante Maria, Wawancara, Bea Mese, 10/10/02.
biasanya para istri masih harus bertanggung jawab atas pekerjaan rumah
tangga selain mencari nafkah dengan menenun. Setiap hari saya melihat
perempuan yang bekerja keras sementara suaminya hanya duduk, minum
kopi, merokok dan bermain kartu atau bilyar. Benar bahwa bulan September
dan bulan Oktober itu musim ‘istirahat’ sebelum musim hujan mulai, tetapi
kelihatannya kaum perempuan tidak bisa beristirahat sama sekali. Ini
ketidakadilan yang paling nyata. Belum ada kesejajaran di antara kaum lakilaki
dan kaum perempuan.
Gejala lain yang penting adalah jumlah anak perempuan yang tidak
melanjutkan sekolah karena komersialisasi tenunan. Di masa kini mereka
sering putus sekolah waktu masih sekolah dasar (SD). Sewaktu mereka
berumur kurang-lebih 12 tahun (atau kalau sudah menstruasi), banyak yang
disuruh pulang menenun oleh orang tuannya supaya mereka bsia mulai
menghasilkan uang secepat mungkin. Satu contoh adalah di keluarga Mama
Lyn, di mana anak-anak perempuan Mama Lyn bekerja menenun untuk
membantu membiayai adik laki-lakinya sehingga adik laki-lakinya bisa
bersekolah. Keadaan ini jelas lebih memanfaati kaum laki-laki tetapi
merugikan kaum perempuan. Dampak yang lama mungkin sangat negatif
karena tidak ada kesempatan bagi perempuan untuk mencapai pendidikan
tinggi dan kemudian bisa mencari pekerjaan di bidang lain. Kemampuan
perempuan untuk bisa lebih banyak menghasilkan uang, mungkin terlihat
sebagai satu hal yang baik dalam jangka-pendek tetapi karena kesempatan
untuk bersekolah tidak ada, masuknya perempuan dalam usia yang relatif
muda ke pasar kerja menjadi keadaaan yang kurang baik untuk masa depan.
Salah satu faktor yang mendukung fenomena perempuan putus sekolah
karena harus bekerja adalah bagaimana kebanyakan warga kampung hanya
memikirkan hidup dari hari ke hari saja dan tidak berpikir tentang masa
depan. Memang ada kekecualian misalnya anak Mama Yul yang dikirim
belajar komputer di
Manggarai masih belum mampu berpikir dan bertindak seperti itu.
Dulu, biasanya kaum laki-laki yang mencari nafkah dalam masyarakat
Manggarai. Namun, dengan perkembangan komersialisasi tenun, mulai ada
perubahan peran kaum laki-laki dan kaum perempuan. Untuk kaum laki-laki,
peran sebagai pencari nafkah tidak tentu lagi. Khususnya terlihat dalam
hubungan dengan para petani. Banyak yang merasa bahwa mereka tidak
bisa menunaikan kewajibannya lagi. Banyak yang bingung tentang peran dan
kedudukannya di dalam masyarakat serta keluarganya. Mereka sering tidak
begitu menghargai diri sendiri lagi. Karena itu cukup banyak yang mulai
berjudi. Perubahan sosial tersebut juga kadang-kadang menyebabkan
ketidakharmonisan di dalam rumah tangga, bahkan sampai munculnya kasus
kekerasan domestik (domestic violence). Cerita tentang suami yang mudah
marah dan memukul istrinya sering ditemui.
Tentu saja ada pasangan yang bisa bekerjasama mengurus rumah tangga di
mana suami mendukung dan menghargai apa yang dikerjakan oleh istrinya.
Merekalah yang cenderung paling beruntung.
temui yang bisa menjadi contoh. Yang pertama, Mama Is dan Om Ben dari
Barang. Om Ben, yang bekerja sebagai pegawai negeri sudah mendapat gaji
yang cukup besar. Hasil tenunan istrinya menambah pendapatan
keluarganya. Yang kedua, Mama Yul dan suaminya dari Ringkas. Mereka
keduanya bekerja di bidang tenun dan saling mendukung.
Salah satu gejala sosial lain yang menarik adalah bagaimana laki-laki mulai
menenun, misalnya Om Njellu. Dewasa ini hanya satu-dua penenun laki-laki,
tetapi menurut saya, pada masa yang akan datang pasti akan ada lebih
banyak yang masuk bidang pertenunan dan bekerja sebagai penenun.
Masyarakat Manggarai kelihatannya bisa menerima perkembangan ini
meskipun secara tradisional hanya kaum perempuan yang boleh menenun.
Menurut Tante Meri dan Tante Fabi, tidak ada rasa malu lagi bagi laki-laki
yang ingin menenun. ‘Mengapa tidak?’ 21, mereka bilang. Menurut Tante
Erna, ‘Terserah, tidak apa-apa. Yang penting – mendapat uang.’22 Biasanya
konsep penenun laki-laki dianggap lucu saja. Namun juga ada yang kurang
siap menerima laki-laki menenun, khususnya generasi yang lebih tua. Gejala
sosial ini menjadi faktor yang sangat penting dalam studi peranan gender di
Manggarai.
21 Tante Meri dan Tante Fabi, Wawancara, Pagal, 21/09/02.
22 Tante Erna, Wawancara, Lale, 09/10/02.
Yang terakhir adalah dampak komersialisasi tenunan songke terhadap
kebudayaan Manggarai pada umumnya. Jelas bahwa pengetahuan tentang
proses penenunan songke tidak akan hilang. Namun arti motif akan hilang
sama sekali kalau tidak ada upaya untuk melestarikannya. Penduduk
kampung di daerah Manggarai, seperti Mama Tua di Bea Mese, tidak tahu
arti motif dan tidak ingin belajar. Mereka hanya tertarik untuk membuat
tenunan dengan motif yang paling laku dijual dan berpendapat bahwa arti
setiap motif tidak penting lagi. Sayang sekali karena sikap seperti ini sangat
tidak menguntungkan untuk pelestarian tenunan songke yang tradisional.
Di samping itu, pengetahuan untuk membuat dan mewarnai benang secara
tradisional sudah hampir tidak ada lagi. Kebanyakan alat tradisional untuk
membuat benang sudah hancur, dipakai sebagai kayu api. Masih ada
beberapa Mama yang ingat prosesnya, tetapi generasi muda tidak ingin
belajar. Menurut mereka, proses pembuatan benang secara tradisional terlalu
rumit dan memerlukan waktu lama. Mereka hanya ingin menenun untuk
menghasilkan uang secepat mungkin. Tante Nela dari kelompok tenun ‘Sinar
Kencana’ menyadari kepentingan melestarikan pengetahuan tradisional
tentang penenunan. Namun anggota-anggota kelompoknya masih belum
berminat.
dipakai para penenun bukan anggota kelompok tenun dibuat di pabrik
benang di Jawa. Benang ini diwarnai memakai celupan kimia, bukan celupan
dari daun-daun tradisional, dan warnanya luntur dengan mudah.
penenun ingin pekerjaannya cepat selesai sehingga bisa menghasilkan lebih
banyak tenunan dan bisa mendapatkan uang lebih banyak. Mereka tidak
peduli pada kualitas tenunan mereka. Perkembangan ini sangat merugikan
tenunan songke Manggarai. Masih ada hasil tenun yang berkualitas tinggi,
misalnya tenunan dari kelompok tenun ‘Sinar Kencana’, tetapi kualitas
tenunan songke pada umumnya tetap cenderung lebih jelek daripada
tenunan yang dibuat oleh generasi sebelumnya.
Seperti yang sudah dijelaskan, secara tradisional hasil tenunan songke juga
dipakai sebagai pakaian sehari-hari. Namun sekarang, warga kampung
cenderung menjual hasil tenunannya dan memakai pakaian barat sebagai
pengantinya.
5.2 Dampak Ekonomi
Kalau dilihat dari segi ekonomi, perkembangan komersialisasi songke ini
mempunyai dampak positif. Alasannya sangat sederhana: penjualan hasil
tenunan menjadi salah satu cara baru untuk menghasilkan uang. Kerajinan
tenun bisa menambah penghasilan rumah tangga. Gejala perbaikan ekonomi
bisa dilihat dengan adanya perbedaan dari segi ekonomi di antara
perkampungan tenun dan perkampungan di luar daerah tenun. Kampungkampung
yang terletak di daerah tenun lebih kaya daripada kampung yang
terletak di daerah bukan daerah tenun. Penduduk di daerah tenun masih
miskin dan hidup melarat, tetapi ada cukup untuk hidup. Kalau tidak ada
penghasilan dari penjualan tenunan, sulit sekali membayari ongkos sekolah
dan transpor, obat dari puskesmas dan lain-lain.
Walaupun pengetahuan menenun membuat pendapatan sebuah keluarga
naik, tetapi harga tenunan masih sangat rendah. Sebagai contoh, satu
lembar kain (sarung) bisa dijual di pasar seharga Rp. 90000 (A$18) sampai
Rp. 150000 (A$30). Ongkos benang untuk sarung itu mungkin Rp. 60000
(A$12) dan penenunannya dilakukan setiap hari selama dua bulan. Jadi
keuntungan mereka ternyata sedikit sekali. Anggota kelompok tenun lebih
beruntung karena benangnya sudah diberikan kepada mereka oleh ketua
kelompok. Jadi uang yang mereka dapat dari hasil penjualan (kira-kira Rp.
100000 atau A$20 per sarung, tergantung kesusahan desain) untuk kerja
mereka sendiri. Anggota kelompok tenun semua setuju bahwa kehidupan
mereka jauh lebih baik karena keterlibatan kelompok tenun itu.
Tenunan songke belum dipasarkan pada tingkat nasional apalagi
internasional. Jarang ada yang dijual di Jawa atau di
di
menenun tetapi hasil tenunan mereka hanya bisa dijual di pasar lokal yang
terbatas, sehingga hanya dapat dijual dengan harga yang tetap rendah.
Walaupun dampak ekonomi dari komersialisasi tenunan songke itu positif,
belum tentu juga apakah keadaan ini bisa berlangsung terus dalam jangka
waktu lama. Mungkin para penenun tidak akan bisa terus-menerus bekerja
keras menenun.
5.3 Dampak Politik
Pada tingkat politik nasional, belum terlihat dampak dari proses
komersialisasi tenunan songke. Mungkin ini karena proses komersialisasi
tenunan songke masih relatif baru dan berlangsung di daerah yang terpencil,
di pulau yang jauh sekali dari
tidak memperhatikan daerah yang terpencil seperti
Dampak politik di tingkat lokal lebih terasa. Misalnya mulai adanya kesadaran
tentang permasalahan gender dan kedudukan kaum perempuan di dalam
masyarakat. Beberapa tahun yang lalu ada program pemerintah dengan
sedikit dana untuk pelatihan tenun. Di samping itu mulai ada LSM yang
memikirkan persoalan ini. Namun dampak politik pada saat ini masih singkat.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Jelas dari studi lapangan ini bahwa sudah ada dampak yang cukup signifikan
terhadap masyarakat Manggarai padahal proses komersialisasi tersebut
masih baru. Dampak yang positif dan negatif bisa dilihat. Dari segi ekonomi,
dewasa ini warga di daerah penelitian saya memang mendapat penghasilan
yang lebih tinggi daripada dulu sejak tenunan songke menjadi barang
komersial, sehingga mereka biasanya mendapatkan cukup uang untuk
memenuhi kebutuhan ekonominya dengan kombinasi penghasilan dari kebun
dan tenunan. Dampak ekonomi sekarang memang positif tetapi mungkin
keadaan ini tidak bisa diharapkan berlangsung terus-menerus karena
bermacam-macam alasan.
Mungkin dampak sosial yang paling nyata, khususnya terhadap sebuah
kelompok dalam masyarakat yaitu kaum perempuan. Dengan proses
komersialisasi tenunan, mulai ada perubahan peranan gender di masyarakat
Manggarai. Implikasi terhadap status kaum perempuan dan kaum laki-laki
menarik sekali. Pada umumnya, walaupun kaum perempuan cenderung lebih
dihargai, kaum laki-laki cenderung kurang menghargai diri sejak
komersialisasi tenunan, karena di masa kini, perempuan lebih berperan
sebagai pencari nafkah dibandingkan dulu.
berencana cepat menikah dengan alasan mau mandiri dan bisa memenuhi
kebutuhan ekonomi dari penghasilan sendiri. Hal ini sangat signifikan dalam
hubungannya dengan persoalan status kaum perempuan di Manggarai.
Namun ada juga banyak laki-laki yang menjadi bingung tentang perubahan
peran ini dan bisa menyebabkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga
mereka. Fenomena menarik lain adalah di mana perempuan tidak
melanjutkan sekolah karena harus pulang untuk menenun yang dampak
jangka panjangnya pasti kurang baik. Gejala sosial dari hal ini sangat
komplek dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
Walaupun ada beberapa dampak yang kurang positif akibat proses
komersialisasi tenunan, tetapi ada satu hal yang jelas yaitu proses ini tidak
mungkin akan dihentikan. Karena itu usaha yang bersifat praktis harus
dikerjakan untuk mengurangi efek negatif dari proses komersialisasi misalnya
untuk melestarikan pengetahuan tradisional sekaligus memperbaiki
kehidupan penduduk setempat.
Misalnya, harus ada yang mengumpulkan semua alat tradisional dan
mencatat cara pembuatan benang dan lain sebagainya. Kalau tidak,
pengetahuan tradisional tersebut akan hilang. Untuk memperbaiki
kesejahteraan para penenun dan masyarakat Manggarai pada umumnya,
harus ada perkembangan dan perluasan pasaran untuk tenunan songke.
Saya sudah berkomunikasi dengan Oxfam Australia Trading, sebuah divisi
dari sebuah LSM, Oxfam CAA, yang kegiatannya mengimpor barang
kerajinan dari negara berkembang untuk dijual di toko mereka di
Mereka sangat tertarik pada kemungkinan mendapat tenunan songke untuk
dijual di sini. Mudah-mudahan kami bisa bekerjasama untuk membantu
memudahkan perkembangan seperti ini yang menurut saya sangat positif.
Proses komersialisasi tenunan songke masih baru sehingga dampak jangka
panjangnya belum jelas. Karena itu kesimpulan penelitian saya ini mungkin
tidak lengkap. Memang penelitian ini masih pada tahap awal. Saya harap
penelitian tentang dampak komersialisasi tenunan songke ini bisa dilanjutkan
dan diteruskan di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
-
the
- Hitchcock, Michael, Indonesian Textile Techniques, Shire Ethnography
Publications Ltd.,
- Kantor Statiskik Kabupaten Manggarai, Kecamatan Cibal Dalam Angka
2000, Badan Pusat Statistik (BPS), Manggarai, 2001.
- Kartiwa, Suwati, Kain Songket
1984.
- Ngonde, Sylvia Kurniawati, Pemanfaatan Tenun Songke pada Masyarakat
Manggarai: Studi Deskripsi di Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten
Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Universitas Airlangga,
- Pemerintah Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai dalam Aneka
Persona dan Peluang Investasi, Pemerintah Kabupaten Manggarai,
Manggarai, 2000.
- Turner, Peter, et. al., Lonely Planet:
Publications Pty. Ltd.,
********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar