tenunan songket

LAPORAN AKHIR

Komersialisasi Tenunan Songke:

Dampaknya Terhadap Masyarakat Manggarai

Studi Kasus di Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

kerjasama dengan

AUSTRALIAN CONSORTIUM FOR

IN-COUNTRY INDONESIAN STUDY (ACICIS)

dan

SOUTH-EAST ASIA CENTRE

AUSTRALIAN NATIONAL UNIVERSITY

Ulla Keech-Marx

2002

Tulisan ini dipersembahkan kepada

teman-teman di Manggarai

yang saya hormati dan cintai.

ABSTRAKSI

Laporan ini adalah hasil penelitian tentang dampak perkembangan

komersialisasi tenunan songke terhadap masyarakat Manggarai di Pulau

Flores, NTT. Kesimpulannya berdasarkan pengalaman peneliti, yang tinggal

selama enam minggu di daerah tersebut pada bulan September-Oktober

2002 untuk melakukan studi lapangan. Selama jangka waktu tersebut peneliti

mengunjungi lima desa di kecamatan Cibal dan tinggal bersama para

penenun dan keluarga mereka. Laporan ini merupakan studi kasus para

penenun dari kampung-kampung di sana. Fokus penelitian yang bersifat

antropolog ini adalah dampak komersialisasi tenunan songke terhadap

masyarakat Manggarai yang terlihat dari segi sosial, ekonomi dan politik.

Walaupun proses komersialisasi ini masih baru tetapi sudah terlihat dampak

yang cukup signifikan, khususnya terhadap sebuah kelompok tertentu dalam

masyarakat yaitu kaum perempuan.

KATA PENGANTAR

LATAR BELAKANG

Pada tahun 2002 saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Program

ACICIS (Australian Consortium for In-Country Indonesian Study) di Indonesia.

Sebagai bagian dari program belajar ini saya diharapkan melakukan studi

lapangan selama satu semester. Minat saya pada beberapa hal seperti

kehidupan masyarakat pedesaan, kesetaraan gender, dampak modernisasi

terhadap masyarakat tradisional dan juga pada tekstil membuat saya memilih

pergi ke Pulau Flores untuk tugas tersebut.

Saya mulai tertarik pada melakukan studi lapangan di Flores, yang terletak di

propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada waktu saya berlibur di sana, pada

bulan Juli tahun 2002. Selama satu bulan saya melakukan perjalanan dari

Maumere (Flores Timur) sampai Labuan Bajo (Flores Barat). Pulau Flores

dan juga pulau-pulau di sekitarnya terkenal sekali dengan kerajinan tenun.

Pada dasarnya, ada dua macam tenunan di Flores: Flores Timur terkenal

dengan kain ikatnya, dan Flores Barat dengan kain songkenya. Karakteristik

dan juga cara pembuatan dua jenis kain ini sangat berbeda.

Tenunan yang paling menarik bagi saya adalah tenunan songke yang dibuat

di Kabupaten Manggarai di Flores Barat. Waktu berlibur di sana saya singgah

sebentar di Pagal, pusat Kecamatan Cibal di Kabupaten Manggarai. Saya

pernah mendengar bahwa ada seorang perempuan yang mempunyai

kelompok tenun di Pagal. Ternyata saya bisa bertemu dengan Tante Nela,

yang pemilik kelompok tenun itu. Pada kesempatan itu dia menyatakan

keinginannya untuk membantu saya dengan penelitian saya. Walaupun

hanya dua hari saya tinggal di daerah tersebut tetapi sudah cukup membuat

saya jatuh cinta pada daerah Manggarai: pemandangannya, tenunan

songkenya dan khususnya, penduduknya.

Satu setengah bulan kemudian, saya kembali ke Manggarai untuk memulai

studi lapangan saya. Saya tiba dan mulai penelitian saya di sana pada

tanggal 15 September tahun 2002 dan mengakhiri penelitian saya pada

tanggal 24 Oktober tahun 2002. Pertama-tama saya menginap beberapa

malam di rumah Tante Nela di Pagal. Sebelum masuk kampung1 saya harus

ambil bagian dalam ‘acara potongan ayam’2 yang dilakukan untuk meminta

perlindungan Tuhan dan para leluhur supaya tidak ada kesulitan atau

gangguan selama kunjungan saya di sana. Setelah itu saya diijinkan masuk

kampung.

Pertama kali saya masuk kampung saya diantar Tante Nela. Dia

memperkenalkan saya kepada banyak orang di beberapa kampung,

khususnya anggota kelompok tenunnya. Inisiatif tante Nela ini ternyata

sangat bermanfaat untuk penelitian saya. Di daerah ini ada yang belum

pernah melihat orang kulit putih sehingga kehadiran saya membuat mereka

takut. Namun sebagai ‘anak’ Tante Nela, saya cepat diterima dan diundang

untuk datang kembali. Hal ini membuat saya berani untuk berjalan-jalan

sendirian dari kampung ke kampung. Selama enam minggu, saya berhasil

mengunjungi lima desa dan tinggal bersama para penenun dan keluarga

mereka. Dengan observasi langsung ini, saya dapat melihat sendiri

bagaimana kehidupan masyarakat pedesaan di daerah Manggarai.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian antropolog. Untuk studi lapangan ini saya

tinggal di daerah Manggarai selama enam minggu. Pertama kali saya ke

kampung di daerah ini, saya diantar pemuka masyarakat setempat yang

dikenal dan dihormati di daerah itu. Tindakan ini membuat saya cepat

diterima dan dipercayai di lingkungan masyarakat setempat. Metode yang

saya gunakan adalah Observasi Partisipartif yaitu keterlibatan langsung

dalam kegiatan sehari-hari penduduk setempat. Melalui proses tersebut saya

berkenalan dan melihat secara langsung kehidupan orang di daerah ini. Saya

melalukan wawancara dengan penduduk setempat, yaitu wawancara bebas

yang bersifat tidak begitu formal dan tidak terstruktur. Wawancara semacam

ini dimaksudkan supaya informan-informan saya tidak merasa malu atau

1 Di daerah Manggarai penduduk menggunakan istilah 'kampung' yang berarti 'dusun' atau

'desa'. Karena itu saya juga akan menggunakan kata 'kampung' di laporan ini. Pagal tidak

dipanggil ‘kampung’, mungkin karena Pagal adalah ibukota kecamatan yang mempunyai lebih

banyak fasilitas dan tidak seterpencil dengan kampung-kampung di sekitarnya.

2 ‘Acara potongan ayam’ adalah istilah yang dipakai di Manggarai. Artinya ‘upacara pemotongan

ayam’.

takut. Kami berbicara sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga seharihari

seperti memasak, mengambil air dan mencuci piring. Sementara mereka

menenun, saya bertanya. Jawaban mereka saya ingat-ingat saja dan nanti

kalau wawancara sudah selesai, saya mencatat semua hasil pembicaraan

kami. Bentuk wawancara-wawancara ini mirip pembicaraan biasa sehari-hari.

Cara ini membuat informan saya menjadi sangat terbuka dan informatif.

Saya lebih suka mewawancarai mereka satu per satu. Ini dilakukan supaya

mereka tidak merasa malu. Di samping itu, meskipun sebagian besar

penduduk kampung cukup lancar berbahasa Indonesia, mereka cenderung

memakai bahasa Daerah (bahasa Manggarai) kalau dalam satu kelompok.

Tape recorder tidak saya pakai karena saya memikir informan mungkin

merasa curiga karena belum pernah melihat mesin seperti itu.

Setelah wawancara saya cross-check (uji-silang) datanya dengan informaninforman

lain. Walaupun saya membaca beberapa buku dan artikel untuk

melengkapi penelitian saya, tetapi sebagian besar waktu dari penelitian saya

ini saya ada di lapangan. Karena itu kesimpulan yang saya dapatkan banyak

berdasarkan pengalaman saya di lapangan.

KESULITAN DI LAPANGAN

Ada beberapa kesulitan yang saya hadapi waktu di lapangan. Pertama-tama

kesulitan yang bersifat fisik, misalnya fasilitas yang kurang, masalah sarana

transportasi dan komunikasi, dan penyakit. Letak tempat penelitian sangat

terpencil dengan fasilitas yang sangat sederhana. Makanan dengan nilai gizi

yang rendah menjadi masalah untuk saya. Selama enam minggu saya hanya

makan nasi dengan daun singkong, mie rebus dan beberapa kacang goreng.

Waktu saya tinggal di sana, musim hujan belum mulai sehingga jarang ada

pisang atau buah-buahan lain. Daerah Manggarai terkenal dengan kopi yang

enak sekali, sehingga saya diharuskan minum kopi tanpa putus! Meskipun

saya selalu minta air saja tetapi selalu diberikan kopi karena tuan rumah

selalu merasa kurang menghormati tamunya kalau kasih air saja. Ini

membuat saya sering sakit kepala! Penyakit seperti malaria juga menjadi

persoalan yang lain bagi saya. Untuk menghindari terinfeksi malaria, saya

selalu harus sangat hati-hati menghindari gigitan nyamuk.

Ada kesulitan lain yang dihadapi kalau mau memfokuskan para penenun,

yaitu kaum perempuan, di dalam penelitian. Masyarakat Manggarai adalah

masyarakat patriarkal. Kaum perempuan biasanya berkesan malu untuk

berbicara dengan ‘orang luar’ dan cenderung tinggal di dapur saja. Untuk bisa

diterima dan mendapat kepercayaan mereka, saya harus tinggal lama di satu

kampung. Namun, tentu saja enam minggu tidak cukup untuk benar-benar

bisa diterima sebagai salah satu dari mereka.

Bahasa merupakan persoalan yang lain. Walaupun hampir semua penduduk

bisa berbahasa Indonesia tetapi mereka jarang menggunakannya dalam

percakapan yang bersifat informal. Ini menjadi masalah yang cukup besar. Di

samping itu, saya merasa bahasa Indonesia saya belum cukup untuk

berkomunikasi dengan sangat baik.

Jarang ada orang kulit putih yang datang ke daerah ini. Karena itu saya

selalu dikelilingi anak-anak kecil yang menonton saya makan, mandi bahkan

tidur! Karena ini terjadi sepanjang hari, dan setiap hari, pengalaman ini

menjadi pengalaman yang sangat melelahkan! Walaupun saya merasa

bahwa saya diterima di sana, tetapi hal ini menunjukkan bahwa saya selalu

akan dianggap ‘orang luar’.

Secara pribadi, yang paling susah bagi saya mungkin adalah melihat begitu

miskinnya penduduk di daerah ini. Daerah NTT memang termasuk daerah

yang paling miskin di Indonesia. Dibandingkan mereka, saya adalah orang

yang kaya raya. Melihat perbedaan ini yang paling sulit, apalagi melihat anakanak

kecil yang menderita malaria atau penyakit lain.

Walaupun kunjungan saya ke Manggarai merupakan tantangan besar bagi

saya, tetapi juga menjadi petualangan yang hebat. Pengalaman saya di

Manggarai sangat berkesan di hati saya. Informan-informan saya bukan

hanya informan, mereka menjadi keluarga saya yang saya cintai dan hormati.

UCAPAN TERIMA KASIH

Saya ingin menghaturkan terima kasih kepada banyak orang. Tanpa

pertolongan dan dorongan mereka, pengalaman saya di Manggarai dan

kemudian laporan ini pasti tidak jadi.

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesarbesarnya

kepada seluruh warga Ruteng, Pagal, Laci, Barang, Cumpe, Rinkas

dan Lale yang menerima saya dengan tangan terbuka. Khususnya Tante

Meri, Tante Mina, Tante Fabi, Tante Is, Om Ben, Mama Lyn, Tante Lyn,

Tante Eti, Tante Maria Ridan, Tante Maria Imin, Tante Adel, Mama Tua di

Bea Mese, Mama Yul, Tante Yul, Tante Erna, Tante Pi, Tante Pau, Mama

Teres dan Om Kasmir. Terima kasih banyak!

Saya sangat berhutang budi kepada Tante Nela sekeluarga di Pagal. Tante

Nela menjadi orang pertama yang mengundang saya datang lagi ke

Manggarai untuk meneliti masyarakat Manggarai, sesudah kunjungan

pertama saya ke daerah tersebut. Dia yang memperkenalkan saya dengan

masyarakat kampung, menyediakan tempat tidur bagi saya di rumahnya, dan

selalu dengan senang hati membantu memberikan informasi. Terima kasih

kepada Missy, teman sekamar, dan Yoga untuk memberikan sebagian dari

ubi kayunya kepada saya setiap hari!

Juga Ibu Anny sekeluarga di Ruteng untuk menyediakan tempat aman dan

sepi di Ruteng di mana saya bisa bersantai bersama anak-anaknya, Delby

dan Refy. Ibu Anny selalu senang berdiskusi dan menjelaskan apa saja yang

saya tanyakan.

Terima kasih kepada Ibu Maria Moe, Ketua Yayasan ‘Tunas Jaya’ di Ruteng,

atas waktunya. Juga para pegawai di kantor-kantor pemerintah di Ruteng dan

Pagal atas pertolongannya.

Saya menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya pula kepada Pak

Yoost, Direktur Program ACICIS di Yogyakarta, atas antusiasmenya yang

besar. Juga semua mahasiswa ACICIS dari angkatan Semester 14 atas

dukungan moril, khususnya untuk Petra Mahy, atas ide-idenya yang

memberikan banyak inspirasi kepada saya.

Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Ibu Tutik, dosen pembimbing

saya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan Pak Danu, Ketua

Program ACICIS di Malang. Tidak lupa juga, terima kasih saya pada tim

ACICIS di UMM.

Kepada Ibu Sylvia Kurniawati di Surabaya yang menyediakan waktu untuk

berdiskusi dan memberikan informasi dan satu kopi skripsinya tentang

tenunan di Manggarai, saya menghaturkan terima kasih. Kepada Catherine

Allerton di Inggris dan Maribeth Erb di Singapur, atas perhatian, nasihat dan

pertolongannya, saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya.

Terima kasih pula kepada Mbak Erny di Malang. Walaupun saya hanya

sebentar tinggal di rumah kosnya di sana, saya merasa seperti di rumah

sendiri.

Di Australia saya ingin berterima kasih kepada Pak George Quinn di ANU

atas saran-saran yang diberikan, serta Ibu Inez Nimpuno atas perhatian dan

saran-sarannya. Terima kasih kepada Kylie Moloney di NLA dan juga Oliver

Story. Akhirnya, terima kasih kepada keluarga saya di Australia yang

memberikan dukungan moril dan saran.

CATATAN

Proses komersialisasi tenunan adalah sebuah fenomena yang masih baru

dan karena itu, dampak jangka panjang dari komersialisasi tenunan ini belum

terlihat jelas. Karena waktu penelitian di lapangan sangat pendek, yaitu

hanya enam minggu, dan karena saya menggunakan pendekatan yang

bersifat antropologis, hasil penelitian ini hanya berdasarkan informasi yang

saya dapat dari sampel yang kecil. Penelitian ini merupakan studi kasus yang

dilaksanakan selama studi lapangan saya pada bulan September dan

Oktober tahun 2002.

Di dalam laporan ini saya berencana untuk memasukkan sebanyak mungkin

cerita pribadi dari informan saya. Karena insiden bom di Bali kami disuruh

cepat pulang ke Australia. Hal ini membuat saya tidak punya cukup waktu

untuk mengumpulkan semua cerita yang ingin saya masukkan dalam laporan

ini. Meskipun kebanyakan cerita pribadi yang dicatat berasal dari para

penenun yang anggota kelompok tenun, hasil penelitian saya mewakili

semua penenun, baik yang anggota kelompok tenun maupun yang bukan.

Oleh karena alasan-alasan tersebut, hasil penelitian saya mungkin tidak

lengkap. Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna

sehingga banyak kesalahan atau kekurangan yang terjadi. Sumbangan saran

dan kritik akan saya terima dengan senang hati. Mudah-mudahan penelitian

ini bisa saya teruskan di masa mendatang.

Peneliti

ULLA KEECH-MARX

Canberra, 28 Februari 2003

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAKSI …………………………………………………………………... i

KATA PENGANTAR …………………..…………………………………….. ii

DAFTAR ISI …….…………………………………………………….……….. ix

I. PENDAHULUAN ………………………………………………………. 1

1.1 Kecamatan Cibal di Kabupaten Manggarai .……………….…… 1

1.2 Tenunan Songke di Daerah Manggarai ..……………………….. 5

II. KOMERSIALISASI TENUNAN SONGKE …………………………… 8

2.1 Penyebab Timbulnya Komersialisasi Tenunan Songke ………. 9

2.2 Dua Jenis Penenun di Daerah Penelitian ………………………. 10

i) Para Penenun Bukan Anggota Kelompok Tenun …………… 10

ii) Para Penenun Anggota Kelompok Tenun …………………… 11

2.3 Pasaran untuk Tenunan Songke ………………………………… 13

III. CERITA-CERITA PRIBADI ……………………………..…………….. 15

3.1 Penenun Anggota Kelompok Tenun Sinar Kencana ………….. 15

i) Tante Meri ...…………………………………………………….. 15

ii) Tante Mina ……………………………………………………… 16

iii) Tante Fabi ……………………………………………………… 16

iv) Tante Maria …………………………………………………….. 17

v) Mama Is dan Om Ben …………………………………………. 18

vi) Mama Lyn ………………………………………………………. 18

vii) Tante Lyn dan Tante Eti ……………………………………… 19

viii) Mama Yul ……………………………………………………… 19

ix) Tante Erna ………………………………………………………20

3.2 Penenun Bukan Anggota Kelompok Tenun …………………….. 20

i) Mama Tua ………………………………………………………... 20

ii) Om Njellu ………………………………………………………… 21

IV. HASIL PENELITIAN …………………………………………………….. 25

4.1 Dampak Sosial ……………………………………………………… 25

4.2 Dampak Ekonomi .………………………………………………….. 30

4.3 Dampak Politik ……………………………………………………… 31

V KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………………... 32

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………. 34

LAMPIRAN ……………………………………………………………………… 35

i) Surat Ijin Penelitian dari UMM………………………………………. 35

ii) Surat Rekomendasi dari Kantor Camat Cibal ……………………. 36

iii) Surat Rekomendasi dari Badan Kesatuan Bangsa, Ruteng …… 37

iv) Surat Keterangan dari Ibu Kornelia Ridung (Tante Nela) ……… 38

v) Peta Indonesia …………………………………………………….… 39

vi) Peta Propinsi Nusa Tenggara Timur, NTT …..…………………… 40

vii) Peta Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, NTT ………………… 41

viii) Peta Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai ………………… 42

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Kecamatan Cibal di Kabupaten Manggarai

Studi lapangan ini dilaksanakan di Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai,

Pulau Flores bagian Barat, di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).3 Luas

wilayah Cibal 167,3 kilometer persegi dengan kepadatan penduduk rata-rata

166,02 per kilometer persegi.4 Penduduknya rata-rata 35 ribu jiwa.5 Wilayah

Cibal berbatasan sebelah utara dengan Kecamatan Reo, sebelah timur

dengan wilayah Lambaleda, di sebelah barat dengan Kecamatan Kuwus,

serta di sebelah selatan dengan wilayah Ruteng. Ada 26 Desa di Kecamatan

Cibal tetapi saya hanya melakukan penelitian di lima desa, yaitu Pagal, yang

merupakan ibukota kecamatan Cibal, Perak (8km dari Pagal), Golo (4km dari

Pagal), Barang (6km dari Pagal) dan Bea Mese (9,3km dari Pagal).6 Di desadesa

tersebut saya memakan waktu di kampung-kampung yang berikutnya:

Laci, Cumpe, Rinkas, Lale dan Barang.

Kecamatan Cibal termasuk daerah pegunungan yang berbatu. Untuk

mencapai lokasi desa-desa tersebut, kita bisa naik kendaraan umum dari

Ruteng (Ibukota Kabupaten Manggarai) selama satu jam, kemudian satu

sampai tiga jam berjalan kaki. Baru ada kendaraan umum (sejenis truk) yang

sehari sekali masuk ke daerah tersebut. Jalan terdiri dari batu atau tanah liat

yang bahkan seringkali rusak berat sehingga perjalanannya memakan

banyak waktu. kalau kita naik truk dari Barang misalnya, akan memakan

waktu kira-kira satu jam; kalau kita berjalan kaki, akan membutuhkan waktu

kira-kira satu setengah jam saja. Kalau musim hujan kondisi jalan cukup licin

dan berbahaya. Ada juga banyak jalan pintas tetapi kondisinya curam dan

licin. Saya lebih senang berjalan kaki karena jauh lebih menyenangkan!

3 Lihat peta h. 42.

4 Ngonde, Sylvia Kurniawati, Pemanfaatan Tenun Songke pada Masyarakat Manggarai: Studi

Deskripsi di Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara

Timur, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya, 1993, h. 27.

5 Kantor Statiskik Kabupaten Manggarai, Kecamatan Cibal Dalam Angka 2000, Badan Pusat

Statistik (BPS), Manggarai, 2001, h. 11.

6 Kantor Statiskik Kabupaten Manggarai, Kecamatan Cibal Dalam Angka 2000, h. 8.

Daerah penelitian saya ini sangat terpencil dan infra struktur di daerah ini

sangat sederhana dan terbatas. Tidak ada listrik atau telepon. Tidak ada

radio apalagi televisi. Penduduknya mandi dan mencuci pakaian di kali dan

mengambil air minum dari sana juga.

Ada cukup banyak penyakit yang sering diderita warga kampung. Penyakit

yang sering muncul termasuk kolera, disentri, bermacam-macam penyakit

kulit dan malaria. Kenyataan ini berkaitan dengan kebersihan lingkungan

tempat tinggal yang kurang baik. Penduduk sering tidak mempunyai uang

untuk membeli obat atau pergi berobat ke Puskesmas Pagal.

Meskipun ada beberapa SD di desa-desa yang saya kunjungi, tetapi belum

ada SMP atau SMA di kampung-kampung. Kalau mau melanjutkan sekolah

anak-anak harus ke Pagal (SMP) atau ke Ruteng (SMA). Kebanyakan anak

masuk SD, tetapi rata-rata 50% dari mereka tidak menamatkan SD atau tidak

melanjutkan ke tingkat berikutnya.7 Kalau mereka melanjutkan ke tingkat

sekolah menengah, misalnya SMP di Pagal, mereka harus berjalan kaki

cukup jauh dari kampungnya, atau kos di Pagal dengan biaya yang cukup

mahal.

Masyarakat Manggarai adalah masyarakat patriarkal, maksudnya status

kaum perempuan ada di bawah status kaum laki-laki. Kaum laki-laki adalah

pihak yang menerima warisan dan bertindak sebagai pengambil keputusan

dalam urusan rumah tangga. Anak laki-laki lebih dihargai daripada anak

perempuan dan secara tradisional, perempuan merasa malu kalau tidak bisa

melahirkan anak laki-laki. Istilah yang dipakai untuk anak perempuan adalah

‘anak luar’, yaitu anak yang tidak dianggap sebagai salah satu anggota

keluarga, karena anggapan bahwa anak perempuan akan meninggalkan

keluarganya untuk mengikuti suaminya segera sesudah menikah.

Kesan saya, orang Manggarai adalah orang yang baik hati dan senang sekali

menerima tamu. Sebagian besar penduduk kampung taat beragama Katolik.

7 Ngonde, Pemanfaatan Tenun Songke pada Masyarakat Manggarai, h. 42.

Ada gereja katolik yang terletak di Bea Mese dan setiap minggu seorang

Pater (yang berasal dari Jawa) mengunjungi desa-desa sekitarnya untuk

berkhotbah. Warga kampung juga masih menjalankan kegiatan ritual

tradisional dan mengikuti kepercayaan nenek moyangnya, misalnya apacara

pemotongan kerbau atau ayam (seperti acara pembersihan yang saya ikuti).

Daerah Cibal adalah daerah pertanian subsisten (subsistance farming).

Pekerjaan di bidang pertanian merupakan kegiatan utama yang dilakukan

sebagian besar kaum laki-laki di sana. Biasanya kampung di daerah ini

berlokasi di atas bukit, dan tanah pertaniannya ada di bawah. Hasil utama

pertanian adalah padi, jagung, kacang tanah dan ubi kayu. Sedangkan hasil

utama perkebunan adalah kopi, kemiri, jambu mente, cengke dan vanili. 8

Masa tanam dimulai bulan Januari pada musim hujan. Musim panen mulai

bulan Juni untuk padi sampai dengan awal bulan Agustus untuk kopi, kemiri,

cengkeh dan lain-lain. Pada bulan Oktober kalau musim hujan sudah mulai,

warga akan disibukkan kembali dengan menanam jagung, yang akan

dipanen pada bulan Januari atau Februari.

Secara tradisional, setiap hari petani turun ke bawah untuk bekerja di kebun.

Mereka bekerja sepanjang hari dan pulang pada sore hari membawa daun

dan sayur untuk dimakan keluarganya. Saat musim panen, kaum perempuan

dan anak-anak membantu di kebun, lain dengan hari-hari biasa di mana

biasanya mereka tinggal di rumah saja. Secara tradisional kaum perempuan

bekerja di rumah termasuk mengurus anak-anak, memasak dan menenun.

1.2 Tenunan Songke di Daerah Manggarai

8Pemerintah Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai dalam Aneka Persona dan

Peluang Investasi, Pemerintah Kabupaten Manggarai, Manggarai, 2000, h. 8.

Wilayah Cibal termasuk daerah yang terkenal dengan tenunannya. Katanya

tradisi tenun dibawa ke NTT oleh pedagang Islam kira-kira pada abad ke-16.9

Tenunan songke adalah tenunan khas daerah Manggarai. Cara

pembuatannya mirip tenunan songket dari Sumatra.10 Karakteristik tenunan

songke itu lain daripada tenunan ikat yang terkenal yang berasal dari Flores

Timur dan Pulau Sumba. Warna dasar kain songke hitam sedangkan

motifnya berwarna-warni11. Walaupun Cibal terkenal dengan kerajinan

tenunannya, tetapi tidak semua desa di kecamatan Cibal merupakan daerah

tenunan. Hanya beberapa desa di sana yang terkenal dengan tenunan

songke. Banyak desa di Kecamatan Cibal di mana penduduknya tidak tahu

sama sekali menenun. Namun desa-desa di daerah penelitian saya, seperti

Bea Mese, Perak, Golo dan Barang semuanya termasuk daerah tenun.

Secara tradisional, hanya kaum perempuan yang boleh menenun. Mereka

baru boleh belajar menenun kalau sudah mendapat menstruasi pertamanya.

Kebanyakan belajar dari ibunya atau kakak perempuannya yang sudah tahu

menenun. Dulu, kaum perempuan menenun untuk mengisi waktu luang saja.

Mereka membutuhkan waktu kira-kira enam bulan untuk membuat benang,

mencelup benang dengan pewarna dan lain sebagainya. Kemudian mereka

mulai menenun selama ‘musim tenun’, dari bulan Mei sampai Oktober,

setelah musim panen, karena pada musim panen kaum perempuan sibuk

membantu di kebun. Kalau mereka bekerja dengan cepat mereka bisa

menyelesaikan dua lembar kain dalam satu tahun. Kain itu dipakai sendiri

atau untuk upacara adat seperti pernikahan. Memang situasi ini sudah

berubah.

9 Ngonde, Pemanfaatan Tenun Songke pada Masyarakat Manggarai, h. 114.

10 Untuk deskripsi teknik pembuatan tenun songke lihat Ngonde, Pemanfaatan Tenun Songke

pada Masyarakat Manggarai, h. 129-145.

11 Untuk descripsi arti motif dan jenis tenunan songke lihat Ngonde, Pemanfaatan Tenun

Songke pada Masyarakat Manggarai, h. 115-126.

BAB II KOMERSIALISASI TENUNAN

SONGKE

Secara tradisional, penduduk Manggarai hidup dari hasil perkebunan dan

pertanian saja. Kira-kira 15 tahun yang lalu mulai ada perubahan. Tenunan

songke mulai menjadi barang komersial, maksudnya masyarakat Manggarai

di daerah tenun mulai membuat tenunan songke khusus untuk dijual.

Saat ini, hampir semua hasil tenunan songke di wilayah Cibal dibuat untuk

dijual. Yang disimpan sedikit sekali dan biasanya hanya dipakai untuk

upacara adat. Sarung tradisional jarang dipakai lagi untuk pakaian seharihari.

Pada masa kini hampir semua perempuan di daerah penelitian yang di

atas umur 13 tahun tahu cara menenun. Menenun menjadi pekerjaan pokok

bagi kaum perempuan. Tidak ada ‘musim tenun’ lagi karena para penenun

menenun sepanjang tahun. Yang ditenun untuk dijual biasanya sarung

tradisional dan selendang.

Baru-baru ini, kelihatanya sejak krisis moneter, ada beberapa laki-laki yang

mulai menenun juga. Namun jumlahnya masih sedikit sekali karena

pekerjaan ini masih dianggap pekerjaan kaum perempuan.

Para penenun cenderung menenun secara rutin sepanjang hari maksudnya

mereka duduk di bawah mulai pagi sampai malam. Biasanya mereka mulai

bekerja kira-kira jam 8 pagi, setelah menyelesaikan kesibukan menyediakan

makan pagi untuk keluarganya, sampai kira-kira jam 6 sore (waktu matahari

mulai terbenam). Biasanya mereka bangun dari posisi duduknya beberapa

kali untuk beristirahat, mengurus anak-anak, menyediakan makanan atau

melakukan tugas rumah tangga lain. Dalam waktu satu jam, mereka bisa

menghasilkan tenunan selebar kurang lebih empat sampai enam cm. Kalau

dikerjakan dengan cara seperti ini mereka bisa menghasilkan rata-rata

selembar kain setiap dua bulan, atau enam lembar kain setahun. Pada masa

kini para penenun cenderung meningkatkan kreativitas mereka untuk

membuat jenis tenun yang akan menarik minat pembeli daripada menenun

dengan motif tradisional.

Para penenun lebih suka menenun bersama-sama sambil bercakap-cakap

supaya pekerjaan mereka tidak terlalu membosankan. Walaupun demikian

mereka juga harus berkonsentrasi pada pekerjaan mereka karena motif dan

desain yang mereka kerjakan sering rumit dan kompleks.

2.1 Penyebab Timbulnya Komersialisasi Tenunan Songke

Ada beberapa alasan yang menjelaskan fenomena komersialisasi tenunan

songke.

Yang pertama, harga hasil panen tidak stabil dan cenderung turun,

tergantung harga komoditas di pasar dunia. Petani di daerah penelitian saya

menyebutkan bahwa zaman dulu harga kemiri bisa mencapai Rp. 7000/kilo

atau kira-kira hampir A$1.50 (sekarang Rp. 5000/kilo = A$ 1.00) dan harga

kopi masih Rp. 20000/kilo atau A$4.00 (sekarang hanya Rp. 3500/kilo =

A$0.50). Perubahan harga komoditas tersebut sangat terasa petani di daerah

penelitian.

Yang kedua, tanah di daerah Manggarai tidak begitu subur lagi akibat banyak

penanaman yang dilakukan hanya untuk hasil bumi untuk perdagangan

(cash-cropping). Ada juga dampak el nino yang baru-baru ini membuat

kemarau panjang sehingga hasil panen berkurang yang menyebabkan

pendapatan petani turun juga.

Yang ketiga, biaya hidup yang naik terus-menerus karena keadaan

perekonomian negara yang kurang baik.

Yang terakhir adalah munculnya kebutuhan baru akibat kehidupan modern

yang tidak terhindarkan, misalnya uang yang dibutuhkan untuk pakaian dan

kosmetik. Masa kini kebanyakan warga kampung memakai pakaian barat

yang harus dibeli daripada pakaian tradisional yang bisa dibuat sendiri. Di

samping itu ada kebutuhan untuk biaya pendidikan (sekarang ada harapan

bahwa semua anak akan bisa bersekolah) dan juga uang transportasi (baru

ada kendaraan yang masuk ke kampung. Dulu warga kampung terpaksa

berjalan kaki tetapi sekarang bisa naik truk.) Semua ini yang merupakan hasil

modernitas memerlukan uang.

Empat alasan ini membuat hasil pertanian tidak dapat lagi mencukupi

kebutuhan ekonomi orang Cibal. Penduduknya terpaksa mencari cara lain

untuk menghasilkan uang dan menambah pendapatan keluarganya. Kalau

hanya menunggu panen, mereka akan mendapatkan uang dua kali setahun,

tetapi kalau menenun, mereka bisa mendapatkan uang setiap dua bulan.

Karena alasan-alasan tersebut, mulai ada proses komersialisasi tenunan

songke.

2.2 Dua Jenis Penenun

Secara umum, pada masa kini ada dua jenis penenun di daerah penelitian.12

Ada yang menjadi anggota kelompok tenun dan ada yang bekerja menenun

sendiri. Secara umum, keadaan warga di wilayah Cibal berbeda-beda

tergantung kalau penenun tersebut menjadi anggota kelompok tenun atau

tidak. Dampak komersialisasi terhadap orang-orang tersebut juga tergantung

kalau mereka menjadi anggota kelompok tenun atau tidak. Karena itu,

penting sekali membedakan dua jenis penenun ini.

i) Para Penenun Bukan Anggota Kelompok Tenun

Kebanyakan penenun di daerah penelitian bekerja menenun sendiri. Para

penenun dari grup ini harus membeli benangnya dari toko, (tersedia di

Ruteng, Pagal dan di kios kecil di setiap kampung), harganya kira-kira Rp. 70

000 (A$14.00) untuk satu sarung (4 meter). Shampoo juga harus dibeli untuk

12 Saya menyadari beberapa LSM di Ruteng, misalnya Yayasan Tunas Jaya, yang mengatur

program-program untuk membina ketrampilan para penenun dari kampung, misalnya kursus

penenunan, penjahitan dan sulaman. Yang mengikuti kursus-kursus tersebut mungkin

merupakan satu jenis penenun lain. Namun LSM-LSM ini di luar daerah penelitian dan tidak

termasuk dalam laporan ini.

mencuci benangnya.13 Kemudian seorang penenun menyiapkan benangnya

dan mulai menenun. Waktu yang dibutuhkan kira-kira dua bulan untuk

menyelesaikan satu sarung.

Kalau sarung itu dipesan oleh teman atau saudara (yang biasanya tinggal di

kota), seorang penenun mengantarkan kain itu dan menerima uang hasil

penjualan yang telah disetujui oleh kedua pihak. Kalau pesanan, biasanya

ada batasan waktu dan harganya lebih mahal. Kalau tidak ada pesanan, hasil

tenun itu harus dibawa ke pasar Ruteng untuk dijual atau dijual kepada

penjual keliling yang melewati kampung. Biasanya seorang penenun

mendapat uang sekitar Rp. 100 000 (A$20) sampai Rp. 150 000 (A$30) untuk

satu sarung, tergantung desainnya dan banyaknya tenunan yang dipasarkan

(demand and supply). Untuk penenun yang membutuhkan uang segera dan

harus menjual hasil tenunannya secepat mungkin, harganya pasti lebih

rendah.

Kalau sarungnya sudah dijual, seorang penenun akan membeli benang lagi

dan prosesnya mulai dari awal lagi. Untuk pekerjaan selama dua bulan

seorang penenun akan mendapat sekitar Rp. 20 000 (A$4.00) sampai Rp. 70

000 (A$14.00) saja untuk dia sendiri. Biasanya untuk yang bukan anggota

kelompok tenun, para penenun jarang mendapakan untung yang nyata

karena uang penjualan hasil tenunnya hanya cukup untuk membeli benang

kembali.

ii) Para Penenun Anggota Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’

Salah satu bukti adanya proses komersialisasi tenunan songke adalah

perkembangan beberapa kelompok tenun yang mulai bermunculan di

Kecamatan Cibal. Di setiap kelompok tenun, ada ketua yang mengurus

administrasi dan mencari langganan, serta beberapa anggota kelompok yang

menenun. Ketua kelompok menerima pesanan dan memberikan instruksi

kepada penenun di kampung.

Di daerah penelitian ada sebuah kelompok tenun, namanya Kelompok Tenun

‘Sinar Kencana’. Ada kurang-lebih 50 perempuan penenun di daerah

13 Sisir yang merupakan bagian perkakas tenun juga harus diganti setiap dua tahun.

penelitian yang menjadi anggota kelompok tenun ini. Kelompok ini, yang

pusatnya di Pagal, didirikan Tante Nela pada tahun 1990. Tante Nela sudah

lama tertarik pada masalah kesetaraan gender, khususnya keadaan

perempuan di Manggarai. Tujuannya membentuk kelompok tenun ini adalah

untuk memperdayakan kaum perempuan di Kabupaten Manggarai dan pada

waktu yang sama juga melestarikan pengetahuan tenunan tradisional.

Di kelompok ini, Tante Nela menerima pesanan, biasanya dari orang

Manggarai yang cukup kaya yang tinggal di Ruteng, Jakarta atau Kupang.

Sering dia menerima pesanan untuk sarung serta kain yang akan dijahit

dibuat pakaian. Tante Nela sendiri yang membuat desain yang unik, lalu

menentukan warnanya. Kemudian desain bersama dengan benangnya

dikirim ke kampung dan diberikan kepada seorang anggota kelompok yang

mempunyai waktu untuk menenunnya. Kalau sudah selesai, hasil tenunnya

diambil Tante Nela dan penenun tersebut menerima uang untuk kerjanya.

Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’ merupakan kelompok tenun yang

‘eksklusif’ karena anggota-anggotanya mempunyai ketrampilan yang

istemewa yaitu mereka bisa membaca gambar motif. Mereka membuat kain

yang berkualitas tinggi dan unik motifnya. Mereka memakai benang yang

cukup mahal, bahkan tiga kali lebih mahal dari benang yang biasanya dipakai

para penenun di kampung. Tante Nela selalu memberikan batasan waktu

untuk menyelesaikan tenunan pesanan. Karena hal-hal tersebut Tante Nela

bisa mendapatkan harga yang cukup baik untuk hasil tenunnya.

Tante Nela yang menyediakan benang kepada anggota kelompoknya dan

mendapat pesanan untuk mereka. Ini berarti mereka tidak perlu membeli

benang sendiri atau pergi menjual hasil tenunnya di pasar. Mereka dibayar

untuk kerja menenun mereka saja, lain dengan para penenun bukan anggota

kelompok tenun. Karena itu, jelas bahwa anggota kelompok tenun lebih

berhasil dalam pekerjaannya dibandingkan dengan para penenun yang

bekerja menenun sendiri.

2.3 Pasaran untuk Tenunan Songke

Secara umum, kelihatannya ada tiga kelompok orang yang membeli songke.

Yang pertama, orang Manggarai yang tinggal di Ruteng, yang cukup kaya. Di

sana songke itu cukup laku karena digunakan sebagai busana sehari-hari

(fashion item). Yang kedua, orang Manggarai dari kampung yang bukan

daerah tenun yang memerlukan sarung songke untuk upacara adat. Yang

ketiga, turis yang datang ke Ruteng. Tiga kelompok ini merupakan pasaran

untuk tenunan songke.

Terlihat jelas bahwa pasaran untuk tenunan songke sangat terbatas. Hampir

semua tenunan songke dijual di Ruteng atau di daerah lain di Manggarai

yang bukan daerah tenun. Pasarannya masih terbatas pada pasar lokal saja

yang belum diperluas. Belum ada tenunan Manggarai yang dijual di toko-toko

di Jakarta atau Bali apalagi di luar Indonesia.

Ternyata ada lebih banyak penenun daripada pembeli kain songke. Karena

itu harga kain songke cenderung tetap rendah. Kadang-kadang selembar

kain bisa mencapai harga jual yang cukup baik, misalnya tenunan yang

dihasilkan oleh Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’. Penyebabnya adalah

bahwa kain tersebut berkualitas tinggi dan unik motifnya. Namun pasaran

untuk kain tersebut juga sangat terbatas karena hanya orang kaya dari

Manggarai yang mampu dan ingin membelinya. Pada umumnya, para

penenun mendapatkan uang sedikit sekali untuk hasil tenun mereka.

BAB III CERITA-CERITA PRIBADI

Waktu saya di Manggarai saya banyak berbicara dengan warga kampung

tentang kehidupan mereka, dan dampak proses komersialisasi tenunan

songke terhadap mereka sendiri serta keluarga mereka. Khususnya dengan

para penenun karena mereka yang terlibat langsung dalam proses

penenunan. Cerita-cerita pribadi yang saya dapat saya tuliskan di bawah ini.14

3.1 Para Penenun Anggota Kelompok Tenun Sinar Kencana

i) Tante Meri

Tante Meri berasal dari kampung Renteng di desa Goreng Meni, Kecamatan

Lambaleda (di sebelah timur wilayah Cibal). Tante Meri, yang berumur

duapuluhan, datang dan tinggal di Pagal pada bulan Oktober 1998. Kampung

asalnya jauh sekali dari Pagal. Dia datang ke Pagal karena dia mendengar

proyek tenun akan dimulai di sana. Karena susah sekali mencari uang di

kampung, maka dia memutuskan pergi bekerja di kelompok tenun yang

dimiliki Tante Nela di Pagal.

Ternyata Tante Meri pintar sekali membuat desain. Karena ini dia sering

diberi pesanan yang cukup rumit (berarti mahal) dan karena itu dia bisa

mendapat cukup banyak uang. Kadang-kadang dia juga menjaga kios kecil

yang dimiliki Tante Nela di Pagal kalau tidak ada pesanan tenun. Dia belum

menikah, jadi penghasilannya itu bisa dipakai sendiri. Kadang-kadang dia

mengirim uang kepada orang tuanya yang masih di kampung tetapi

kebanyakan uang bisa dia simpan untuk masa tua. Tante Meri tidak ingin

cepat menikah. Karena penghasilannya dari pekerjaannya di kelompok

tenun, dia bisa mandiri dan tidak terpaksa untuk cepat menikah.

14 Kebanyakan cerita ini datang dari penenun anggota kelompok tenun ‘Sinar Kencana’. Saya

berencana mengumpulkan cerita dari para penenun lain juga tetapi karena insiden di Bali

pada bulan Oktober 2002, maka pengumpulan cerita tersebut terpaksa dihentikan. Hal ini

menyebabkan tidak ada waktu sehingga bagian ini belum lengkap. Walaupun demikian,

kesimpulan saya berdasarkan pembicaraan dan diskusi baik dengan para penenun anggota

kelompok tenun maupun para penenun bukan anggota kelompok tenun, serta warga

Manggarai lainnya.

ii) Tante Mina

Tante Mina yang juga berumur duapuluhan berasal dari kampung Lando,

desa Lando di Kecamatan Cibal. Dia mulai belajar tenun dari Ibunya waktu

dia berumur 13 tahun. Menurut Ibunya, kemampuan menenun itu yang paling

penting untuk kaum perempuan. Waktu dia berumur 14 tahun, Ibunya

meninggal. Satu tahun kemudian, Bapaknya juga meninggal dunia maka

Tante Mina menjadi yatim piatu pada umur 14 tahun. Karena dia anak

sulung, pada usia yang sangat muda Tante Mina harus bekerja keras di

kebun untuk menghidupi saudara-saudaranya. Karena itu, sekarang dia

sering sakit.

Pada bulan Oktober 2001 Tante Mina datang dan tinggal bersama Tante

Nela di Pagal. Waktu itu, Tante Mina belum bisa membaca gambar desain

yang dibuat Tante Nela tetapi dia cepat belajar and segera menjadi anggota

kelompok tenun Tante Nela. Selama satu tahun Tante Mina berobat di

Puskesmas Pagal dan tidak menenun. Dia hanya membantu sedikit dengan

pekerjaan di rumah karena masih sakit. Tante Nela membayar biaya

pengobatannya selama hampir satu tahun. Akhirnya pada bulan Oktober

2002, Tante Mina hampir sembuh dari penyakitnya dan bisa mulai menenun

lagi.

Karena adanya kelompok tenun ini, yang muncul akibat komersialisasi

tenunan songke, Tante Mina menerima dukungan emosional dan finansial. Di

samping pekerjaannya menenun, Tante Mina juga berkesempatan pergi ke

puskesmas dan mencari obat supaya dia bisa disembuhkan.

iii) Tante Fabi

Tante Fabi, yang lahir pada tahun 1974, berasal dari kampung Laci, Desa

Perak, Cibal. Kampungnya kurang-lebih berjarak satu jam dari Pagal berjalan

kaki. Tante Fabi, yang tujuh bersaudara, putus sekolah waktu SMP karena

sakit. Dia belajar menenun waktu dia berumur 16 tahun dan menikah secara

adat waktu baru berumur 16 tahun. Dia mengikuti suaminya dan tinggal di

Kecamatan Lambaleda, jauh dari Laci dan keluarganya. Waktu berumur 18

tahun dia jatuh hamil, kemudian menjadi sakit dan lemah sesudah melahirkan

anak laki-lakinya. Karena itu suami Tante Fabi meninggalkan dia dan

mengambil istri lain. Tante Fabi terpaksa pulang kembali ke kampung asalnya

dalam keadaan masih sakit dengan membawa anaknya yang masih bayi.

Sekarang, anaknya tinggal di Laci dengan neneknya dan Tante Fabi tinggal

di Pagal di rumah Tante Nela sebagai penenun. Dalam pekerjaannya,

tangannya cepat sekali sehingga dalam waktu singkat dia bisa cepat

menyelesaikan satu lembar kain. Tante Fabi sangat berhasil dalam

pekerjaannya. Adiknya juga pandai menenun. Sekarang keduanya yang

menghidupi orang tua mereka. Orang tuanya masih bekerja sebagai petani

tetapi hasilnya hanya cukup untuk makan empat bulan.

Satu tahun yang lalu, suami Tante Fabi datang ke Pagal untuk meminta

istrinya, yaitu Tante Fabi, kembali ke rumah, tetapi permintaan ini ditolak

Tante Fabi. Menurut dia, ‘kalau si perempuan sudah mempunyai anak dan

bisa mencari nafkah sendiri, buat apa punya suami?!’. Mengenai jumlah

anak, menurut Tante Fabi ‘satu anak sudah cukup’. 15

iv) Tante Maria

Tante Maria, yang berumur 27 tahun, tinggal di kampung Lale di Bea Mese.

Dia tinggal bersama Ibunya dan 3 anaknya yang berumur 13 bulan, 4 tahun

dan 8 tahun. Ibunya, yang dipanggil Nenek, sudah ditinggalkan suaminya

yang pergi tinggal bersama istri kecilnya, yaitu istri muda, beberapa tahun

yang lalu. Nenek masih bekerja di kebun padahal sudah tua. Tante Maria

mengurus anak-anaknya sendiri, memasak dan menenun. Dia menjadi

anggota kelompok tenun pada tahun 1996. Hasil kerja sama mereka cukup

untuk menghidupi semua anggota keluarga. Menurut Tante Maria, hasil

kebun sama banyak dengan hasil tenun dalam perekonomian keluarga.

Meskipun rumahnya sangat sederhana dan dia harus bekerja keras, tetapi

penghasilannya cukup untuk hidup.

Tante Maria sudah menikah tetapi dipanggil ‘Janda Malaysia’ karena

suaminya bekerja di Malaysia. Suaminya sudah tiga bulan berada di Malaysia

15 Tante Fabi, Wawancara, Pagal, 01/10/02

tetapi belum ada satu suratpun atau uang yang sampai. Tante Maria yang

akhirnya ‘menyuruh’ suaminya untuk pergi ke Malaysia karena sudah lama

suaminya tidak bekerja, hanya berjudi dan menghabiskan uang saja. Menurut

tante Maria ‘Biar kalau dia tidak pulang, lebih baik kalau kami sendirian di

sini’16. Menurut Tante Maria, dia tidak memerlukan suaminya lagi.

v) Mama Is dan Om Ben

Mama Is tinggal di Kampung Barang di Desa Barang bersama suaminya Om

Ben, anak-anak mereka serta orang tua Om Ben. Om Ben adalah pegawai

negri yang bekerja di seksi administrasi di sekolah dasar negeri. Mama Is

adalah ketua para penenun di Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’ karena dia

adalah anggota pertama kelompok tenun ini. Dia masuk kelompok ini pada

tahun 1990 dengan dorongan suaminya. Karena kedudukannya sebagai

ketua para penenun dia mendapat banyak pesanan dari Tante Nela dan

sangat berhasil dalam pekerjaannya.

Sebelum menjadi pegewai negri Om Ben pernah mengalami masa sulit

(‘pernah jatuh’) dalam hidupnya, yaitu waktu dia berjualan kopi. Mama Is

yang menghidupi keluarganya waktu itu. Baru satu tahun yang lalu mereka

berhasil membangun rumah yang besar sekali. Om Ben mengakui bahwa

mereka bisa membangun rumah itu karena penghasilan mereka dari usaha

tenunannya.

vi) Mama Lyn

Mama Lyn berasal dari kampung Lale, Desa Bea Mese, Kecamatan Cibal.

Dia lahir kira-kira pada tahun 1960 dan menikah waktu masih muda. Dia

melahirkan tiga anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Yang perempuan

bisa menenun. Suaminya bekerja sebagai tukang kayu. Mereka memiliki

tanah yang letaknya jauh dari rumah. Hasilnya (beras, jagung dan sayur)

hanya cukup untuk dimakan sendiri.

Walaupun tidak ada hasil kebun untuk dijual, kehidupan keluarga Tante Lyn

tidak terlalu susah dibandingkan dengan keluarga lain di daerah itu karena

ada tiga anggota keluarga yang menenun. Salah satu ukurannya adalah

16 Tante Maria, Bea Mese, Wawancara, 10/10/02.

bahwa mereka memiliki radio. Uang tunai yang dipakai untuk membeli radio

itu mereka dapatkan dari hasilnya.

vii) Tante Lyn dan Tante Eti

Tante Lyn dan Tante Eti adalah anak-anak Mama Lyn. Mereka berturut-turut

berumur 22 dan 20 tahun. Keduanya menamatkan SMP kelas tiga dan

sangat berhasil di sekolah. Walaupun demikian mereka tidak meneruskan

pendidikan mereka dan pulang untuk menenun karena ada ‘krisis uang’

dalam keluarga mereka. Mereka menjadi anggota kelompok tenun pada

tahun 1996 juga.

Mereka mempunyai adik laki-laki, yang masih duduk di kelas 5 SD, yang

berumur 11 tahun. Ada rencana mengirim dia melanjutkan sekolah. Dua

kakak perempuannya bekerja keras menenun supaya adik mereka bisa tetap

bersekolah.

viii) Mama Yul

Mama Yul berasal dari kampung Rincas, Desa Perak, Cibal. Dia sudah

menikah dan mempunyai dua anak: satu perempuan dan satu laki-laki. Mama

Yul bersekolah sampai kelas 6 SD. Satu tahun yang lalu dia masuk kelompok

tenun.

Dulu, suaminya petani. Tiga tahun yang lalu mereka menjual tanahnya

karena lebih banyak uang yang dikeluarkan untuk mengurus tanah tersebut

daripada uang yang dihasilkan. Karena jelas bahwa hasil kebun itu tidak

beruntung lagi, suaminya menjadi pedagang kain songke dan menjual sarung

dari bahan tenunan songke di kampung-kampung di daerah yang bukan

daerah tenun. Tiga kali sebulan dia pergi menjual kain, dan menghabiskan

waktu 3-4 hari di jalan. Dia masuk bidang songke bersama dengan istrinya.

Sekarang, mereka hidup dari tenunan songke saja. Mereka membeli semua

sayur dan makanan lain dari toko atau pasar.

Anak perempuan Mama Yul, yang berumur 21 tahun, juga bisa menenun

tetapi dia ingin melanjutkan sekolah. Waktu saya di Manggarai dia berangkat

ke Surabaya untuk mengikuti kursus komputer. Dari hasil tenun saja,

keluarga ini mampu mengirim anak perempuan mereka ke Jawa untuk

belajar. Walaupun keputusan mereka untuk menjual tanah mereka itu

dianggap sangat berisiko, ternyata mereka berhasil. Saya percaya bahwa 10

tahun kemudian, akan ada jauh lebih banyak penduduk yang menjual

tanahnya dan mempercayai hasil tenun saja untuk hidup.

ix) Tante Erna

Tante Erna dari Beamese, yang berumur kira-kira 20 tahun, masih gadis dan

tinggal bersama orang tuanya. Dia bersekolah sampai kelas enam SD tetapi

tidak melanjutkan sekolah karena keluarganya tidak mampu. Dia enam

bersaudara, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Mamanya menenun dan

bapaknya bekerja di kebun. Hasil tenunan dan kebun dijual untuk menambah

penghasilan keluarganya. Menurut Tante Erna, penghasilan mereka tidak

cukup tanpa usaha tenunan Mereka harus menggabungkan dua sumber

penghasilan itu untuk bisa hidup layak.

Tante Erna sudah dua tahun bekerja di kelompok tenun. Hanya dia dari

keluarganya yang masuk karena Mamanya terlalu repot mengurus anak-anak

kecil. Tante Erna senang tinggal di rumah dan menenun, dia tidak ingin cepat

menikah.

3.2 Para Penenun Bukan Anggota Kelompok Tenun

i) Mama Tua

Mama Tua, yang tinggal di Bea Mese, sudah berumur kurang-lebih 50 tahun.

Dia mempunyai tujuh anak, yaitu dua laki-laki dan lima perempuan termasuk

satu anak yang masih balita.

Lima anak perempuannya penenun semuanya. Satu di antara anak-anaknya

sudah menamatkan SD tetapi tidak meneruskan ke tingkat SMP. Nasihat

Mama Tua kepada anak perempuan di kampung adalah begini: ‘Jangan

melanjutkan sekolah, lebih beruntung kalau kamu menenun saja.’17 Mama

Tua menerima pesanan tenun dari keluarga dan teman-temannya di Ruteng.

Di samping lima anak perempuannya, Mama Tua juga mempunyai dua anak

laki-laki. Yang bungsu (15 tahun) sudah satu tahun bekerja di Malaysia di

‘kolam ikan’. Menurut MamaTua, anaknya sudah mengirim Rp. 7 juta dari

sana tetapi sampai sekarang belum sampai dan Mama Tua khawatir uang itu

‘sudah habis orang yang punya’ dan tidak akan sampai sama sekali.

Anak laki-laki Mama Tua yang lain (umurnya kira-kira 18 tahun) sudah

mencoba pergi ke Malaysia juga. Dia baru dikirim pulang dari sana. Baru

sampai di Malaysia dia ditangkap, dimasukkan penjara dan akhirnya dikirim

pulang. Walaupun masalah tersebut, dia ingin mencoba lagi. Soalnya tidak

ada uang lagi, semua sudah dihabiskan untuk membeli tiket kapal seharga

Rp. 1 juta. Sekarang dia menunggu di kampung dan berencana bekerja di

kebun bersama Bapaknya sampai ada cukup uang yang dikumpulkan untuk

membeli tiket kapal lagi. Mama Tua ingin anaknya tinggal di kampung saja

supaya ada yang bisa bekerja di kebun nanti kalau Bapaknya, yang sudah

mulai tua, sudah meninggal. Namun anaknya berpikir bahwa masa depan

tidak akan baik kalau dia menjadi petani saja. Sebenarnya, dia mungkin tidak

akan bisa berangkat lagi karena ongkos kapal yang mahal sekali itu. Mungkin

dia akan terpaksa tinggal di kampung asalnya, yang juga sebuah keadaan

yang sangat membingungkan dan tidak pasti, karena tidak mungkin bisa

menghidupi keluarganya dari hasil kebun saja.

ii) Om Njellu

Om Njellu, yang berumur duapuluhan, berasal dari kampung Rinkas. Dia

adalah seorang penenun laki-laki. Sudah lima tahun dia menenun, adik

perempuannya yang mengajar. Dia tidak bekerja di kebun, setiap hari

sepanjang hari dia menenun sebagai penggantinya. Dulu dia menerima

pesanan dari sebuah LSM di Ruteng tetapi sekarang hanya mendapat

pesanan dari teman-teman dan keluarganya. Baru-baru ini ada beberapa

laki-laki seperti Om Njello yang mulai menenun. Yang menarik, dia cenderung

berkelakuan dan diperlakukan seperti perempuan.

17 Mama Tua, Bea Mese, Wawancara, 08/10/02

BAB IV HASIL PENELITIAN

Proses komersialisasi tenunan songke baru dimulai kira-kira 10-15 tahun

yang lalu. Karena masih baru dampaknya baru mulai terlihat sekarang.

Walaupun demikian sudah terlihat dampak yang berarti, dari segi sosial,

ekonomi dan politik.

5.1 Dampak Sosial

Dampak sosial yang mungkin paling nyata adalah perubahan yang terjadi

terhadap kaum perempuan. Yang paling terlihat jelas adalah bagaimana

peran perempuan menjadi lebih besar dalam perekonomian keluarga.

Dengan perubahan ini, perempuan mulai mengalami perbaikan status di

dalam masyarakat. Secara umum mereka lebih dihargai karena bisa

mengambil bagian yang penting dalam perekonomian keluarga. Mereka

sendiri bangga dan lebih menghargai diri karena bisa membantu secara

langsung dalam urusan mencari nafkah.

Di samping itu, dengan perkembangan tersebut, mulai ada kesadaran

tentang permasalahan gender dan feminisme. Walaupun mereka belum

pernah mendengar kata ‘feminisme’ mereka mulai mengerti dan menyetujui

konsepnya. Konsep-konsep feminisme juga mulai diperkenalkan oleh

program pembangunan dari beberapa LSM dan juga pemerintah.

Secara adat, anak laki-laki yang palang dihargai dalam masyarakat

Manggarai. Dulu, sebuah keluarga merasa malu kalau tidak mempunyai anak

laki-laki. Namun sekarang, hal itu tidak begitu penting lagi. Bahkan ada

kecenderungan di mana penghargaan anak perempuan lebih tinggi

dibandingkan dulu. Misalnya dari perspektif ekonomi, anak perempuan

cenderung dilihat sebagai aset keluarga yang berharga dibandingkan dengan

saudara laki-lakinya, karena anak perempuan pandai menenun dan berhasil

mendapatkan uang. Ini terjadi dengan anak-anak perempuan Mama Tua di

Bea Mese yang mendapatkan jauh lebih banyak uang daripada saudarasaudara

laki-laki mereka.18

Di masa kini, beberapa perempuan yang bisa hidup dari usaha sendiri, tanpa

dukungan finansial dari suaminya.19 Misalnya, Tante Maria yang suaminya

ada di Malaysia masih bisa menghidupi diri dan anak-anaknya dari hasil

tenunannya. Tante Fabi dan Tante Meri juga bisa mencukupi biaya hidup

mereka dan keluarganya. Para perempuan ini jauh lebih mandiri sekarang

dibandingkan dengan dulu. Ini disebabkan perkembangan komersialisasi

tenunan, di mana secara ekonomis perempuan mempunyai peran yang

sangat penting, yaitu sebagai produser. Ada yang bilang suaminya ‘tidak ada

guna lagi’20. Proses ini mulai menaikkan status kaum perempuan dalam

masyarakat Manggarai. Ini perubahan yang sangat berarti dan penting dalam

perkembangan masyarakat Manggarai dengan adanya perubahan dalam

hubungan kekuasaan (power relations) di tingkat yang paling kecil, yaitu

keluarga.

Dampak negatif terhadap kaum perempuan juga muncul akibat

komersialisasi tenunan songke. Yang pertama, para penenun harus bekerja

keras untuk bisa mendapatkan penghasilan yang cukup. Mereka harus

bekerja dari pagi hari sampai malam hari, di posisi yang tidak nyaman, yaitu

posisi duduk di bawah tanpa bantal atau tikar. Posisi yang sama sepanjang

hari ini membuat mereka sering jatuh sakit, khususnya sakit pinggang dan

sakit mata karena bekerja pada malam hari hanya dengan memakai cahaya

lilin yang kurang terang.

Penenun yang mempunyai suami yang ingin membantu mengurus anak,

memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lain akan sangat

beruntung. Memang ada beberapa suami yang senang membantu istrinya,

tetapi yang sering terjadi adalah bahwa para suami tidak mau. Sehingga,

18 Ada alasan lain mengapa anak perempuan lebih beruntung. Di Manggarai, kalau anak

perempuan masih gadis (belum menikah), penghasilan dari tenunannya diberikan kepada

orang tuanya. Sedangkan anak laki-laki bisa memakai uang yang didapatkan untuk

keperluannya sendiri.

19 Yang bisa hidup dari usaha sendiri biasanya anggota kelompok tenun yang bisa

mendapatkan harga yang cukup baik untuk penjualan tenunannya.

20 Tante Maria, Wawancara, Bea Mese, 10/10/02.

biasanya para istri masih harus bertanggung jawab atas pekerjaan rumah

tangga selain mencari nafkah dengan menenun. Setiap hari saya melihat

perempuan yang bekerja keras sementara suaminya hanya duduk, minum

kopi, merokok dan bermain kartu atau bilyar. Benar bahwa bulan September

dan bulan Oktober itu musim ‘istirahat’ sebelum musim hujan mulai, tetapi

kelihatannya kaum perempuan tidak bisa beristirahat sama sekali. Ini

ketidakadilan yang paling nyata. Belum ada kesejajaran di antara kaum lakilaki

dan kaum perempuan.

Gejala lain yang penting adalah jumlah anak perempuan yang tidak

melanjutkan sekolah karena komersialisasi tenunan. Di masa kini mereka

sering putus sekolah waktu masih sekolah dasar (SD). Sewaktu mereka

berumur kurang-lebih 12 tahun (atau kalau sudah menstruasi), banyak yang

disuruh pulang menenun oleh orang tuannya supaya mereka bsia mulai

menghasilkan uang secepat mungkin. Satu contoh adalah di keluarga Mama

Lyn, di mana anak-anak perempuan Mama Lyn bekerja menenun untuk

membantu membiayai adik laki-lakinya sehingga adik laki-lakinya bisa

bersekolah. Keadaan ini jelas lebih memanfaati kaum laki-laki tetapi

merugikan kaum perempuan. Dampak yang lama mungkin sangat negatif

karena tidak ada kesempatan bagi perempuan untuk mencapai pendidikan

tinggi dan kemudian bisa mencari pekerjaan di bidang lain. Kemampuan

perempuan untuk bisa lebih banyak menghasilkan uang, mungkin terlihat

sebagai satu hal yang baik dalam jangka-pendek tetapi karena kesempatan

untuk bersekolah tidak ada, masuknya perempuan dalam usia yang relatif

muda ke pasar kerja menjadi keadaaan yang kurang baik untuk masa depan.

Salah satu faktor yang mendukung fenomena perempuan putus sekolah

karena harus bekerja adalah bagaimana kebanyakan warga kampung hanya

memikirkan hidup dari hari ke hari saja dan tidak berpikir tentang masa

depan. Memang ada kekecualian misalnya anak Mama Yul yang dikirim

belajar komputer di Surabaya. Namun kebanyakan warga kampung di

Manggarai masih belum mampu berpikir dan bertindak seperti itu.

Dulu, biasanya kaum laki-laki yang mencari nafkah dalam masyarakat

Manggarai. Namun, dengan perkembangan komersialisasi tenun, mulai ada

perubahan peran kaum laki-laki dan kaum perempuan. Untuk kaum laki-laki,

peran sebagai pencari nafkah tidak tentu lagi. Khususnya terlihat dalam

hubungan dengan para petani. Banyak yang merasa bahwa mereka tidak

bisa menunaikan kewajibannya lagi. Banyak yang bingung tentang peran dan

kedudukannya di dalam masyarakat serta keluarganya. Mereka sering tidak

begitu menghargai diri sendiri lagi. Karena itu cukup banyak yang mulai

berjudi. Perubahan sosial tersebut juga kadang-kadang menyebabkan

ketidakharmonisan di dalam rumah tangga, bahkan sampai munculnya kasus

kekerasan domestik (domestic violence). Cerita tentang suami yang mudah

marah dan memukul istrinya sering ditemui.

Tentu saja ada pasangan yang bisa bekerjasama mengurus rumah tangga di

mana suami mendukung dan menghargai apa yang dikerjakan oleh istrinya.

Merekalah yang cenderung paling beruntung. Ada dua pasangan yang saya

temui yang bisa menjadi contoh. Yang pertama, Mama Is dan Om Ben dari

Barang. Om Ben, yang bekerja sebagai pegawai negeri sudah mendapat gaji

yang cukup besar. Hasil tenunan istrinya menambah pendapatan

keluarganya. Yang kedua, Mama Yul dan suaminya dari Ringkas. Mereka

keduanya bekerja di bidang tenun dan saling mendukung.

Salah satu gejala sosial lain yang menarik adalah bagaimana laki-laki mulai

menenun, misalnya Om Njellu. Dewasa ini hanya satu-dua penenun laki-laki,

tetapi menurut saya, pada masa yang akan datang pasti akan ada lebih

banyak yang masuk bidang pertenunan dan bekerja sebagai penenun.

Masyarakat Manggarai kelihatannya bisa menerima perkembangan ini

meskipun secara tradisional hanya kaum perempuan yang boleh menenun.

Menurut Tante Meri dan Tante Fabi, tidak ada rasa malu lagi bagi laki-laki

yang ingin menenun. ‘Mengapa tidak?’ 21, mereka bilang. Menurut Tante

Erna, ‘Terserah, tidak apa-apa. Yang penting – mendapat uang.’22 Biasanya

konsep penenun laki-laki dianggap lucu saja. Namun juga ada yang kurang

siap menerima laki-laki menenun, khususnya generasi yang lebih tua. Gejala

sosial ini menjadi faktor yang sangat penting dalam studi peranan gender di

Manggarai.

21 Tante Meri dan Tante Fabi, Wawancara, Pagal, 21/09/02.

22 Tante Erna, Wawancara, Lale, 09/10/02.

Yang terakhir adalah dampak komersialisasi tenunan songke terhadap

kebudayaan Manggarai pada umumnya. Jelas bahwa pengetahuan tentang

proses penenunan songke tidak akan hilang. Namun arti motif akan hilang

sama sekali kalau tidak ada upaya untuk melestarikannya. Penduduk

kampung di daerah Manggarai, seperti Mama Tua di Bea Mese, tidak tahu

arti motif dan tidak ingin belajar. Mereka hanya tertarik untuk membuat

tenunan dengan motif yang paling laku dijual dan berpendapat bahwa arti

setiap motif tidak penting lagi. Sayang sekali karena sikap seperti ini sangat

tidak menguntungkan untuk pelestarian tenunan songke yang tradisional.

Di samping itu, pengetahuan untuk membuat dan mewarnai benang secara

tradisional sudah hampir tidak ada lagi. Kebanyakan alat tradisional untuk

membuat benang sudah hancur, dipakai sebagai kayu api. Masih ada

beberapa Mama yang ingat prosesnya, tetapi generasi muda tidak ingin

belajar. Menurut mereka, proses pembuatan benang secara tradisional terlalu

rumit dan memerlukan waktu lama. Mereka hanya ingin menenun untuk

menghasilkan uang secepat mungkin. Tante Nela dari kelompok tenun ‘Sinar

Kencana’ menyadari kepentingan melestarikan pengetahuan tradisional

tentang penenunan. Namun anggota-anggota kelompoknya masih belum

berminat.

Ada kecenderungan bahwa kualitas tenunan itu berkurang. Benang yang

dipakai para penenun bukan anggota kelompok tenun dibuat di pabrik

benang di Jawa. Benang ini diwarnai memakai celupan kimia, bukan celupan

dari daun-daun tradisional, dan warnanya luntur dengan mudah. Para

penenun ingin pekerjaannya cepat selesai sehingga bisa menghasilkan lebih

banyak tenunan dan bisa mendapatkan uang lebih banyak. Mereka tidak

peduli pada kualitas tenunan mereka. Perkembangan ini sangat merugikan

tenunan songke Manggarai. Masih ada hasil tenun yang berkualitas tinggi,

misalnya tenunan dari kelompok tenun ‘Sinar Kencana’, tetapi kualitas

tenunan songke pada umumnya tetap cenderung lebih jelek daripada

tenunan yang dibuat oleh generasi sebelumnya.

Seperti yang sudah dijelaskan, secara tradisional hasil tenunan songke juga

dipakai sebagai pakaian sehari-hari. Namun sekarang, warga kampung

cenderung menjual hasil tenunannya dan memakai pakaian barat sebagai

pengantinya. Ada implikasi budaya lagi dari gejala ini.

5.2 Dampak Ekonomi

Kalau dilihat dari segi ekonomi, perkembangan komersialisasi songke ini

mempunyai dampak positif. Alasannya sangat sederhana: penjualan hasil

tenunan menjadi salah satu cara baru untuk menghasilkan uang. Kerajinan

tenun bisa menambah penghasilan rumah tangga. Gejala perbaikan ekonomi

bisa dilihat dengan adanya perbedaan dari segi ekonomi di antara

perkampungan tenun dan perkampungan di luar daerah tenun. Kampungkampung

yang terletak di daerah tenun lebih kaya daripada kampung yang

terletak di daerah bukan daerah tenun. Penduduk di daerah tenun masih

miskin dan hidup melarat, tetapi ada cukup untuk hidup. Kalau tidak ada

penghasilan dari penjualan tenunan, sulit sekali membayari ongkos sekolah

dan transpor, obat dari puskesmas dan lain-lain.

Walaupun pengetahuan menenun membuat pendapatan sebuah keluarga

naik, tetapi harga tenunan masih sangat rendah. Sebagai contoh, satu

lembar kain (sarung) bisa dijual di pasar seharga Rp. 90000 (A$18) sampai

Rp. 150000 (A$30). Ongkos benang untuk sarung itu mungkin Rp. 60000

(A$12) dan penenunannya dilakukan setiap hari selama dua bulan. Jadi

keuntungan mereka ternyata sedikit sekali. Anggota kelompok tenun lebih

beruntung karena benangnya sudah diberikan kepada mereka oleh ketua

kelompok. Jadi uang yang mereka dapat dari hasil penjualan (kira-kira Rp.

100000 atau A$20 per sarung, tergantung kesusahan desain) untuk kerja

mereka sendiri. Anggota kelompok tenun semua setuju bahwa kehidupan

mereka jauh lebih baik karena keterlibatan kelompok tenun itu.

Tenunan songke belum dipasarkan pada tingkat nasional apalagi

internasional. Jarang ada yang dijual di Jawa atau di Bali, biasanya hanya di

Flores. Yang membeli songke adalah turis dan orang Manggarai yang tinggal

di kota atau di daerah bukan daerah tenun. Banyak perempuan yang

menenun tetapi hasil tenunan mereka hanya bisa dijual di pasar lokal yang

terbatas, sehingga hanya dapat dijual dengan harga yang tetap rendah.

Walaupun dampak ekonomi dari komersialisasi tenunan songke itu positif,

belum tentu juga apakah keadaan ini bisa berlangsung terus dalam jangka

waktu lama. Mungkin para penenun tidak akan bisa terus-menerus bekerja

keras menenun.

5.3 Dampak Politik

Pada tingkat politik nasional, belum terlihat dampak dari proses

komersialisasi tenunan songke. Mungkin ini karena proses komersialisasi

tenunan songke masih relatif baru dan berlangsung di daerah yang terpencil,

di pulau yang jauh sekali dari Jakarta. Kesan umum bahwa pemerintah pusat

tidak memperhatikan daerah yang terpencil seperti Flores sangat dirasakan.

Dampak politik di tingkat lokal lebih terasa. Misalnya mulai adanya kesadaran

tentang permasalahan gender dan kedudukan kaum perempuan di dalam

masyarakat. Beberapa tahun yang lalu ada program pemerintah dengan

sedikit dana untuk pelatihan tenun. Di samping itu mulai ada LSM yang

memikirkan persoalan ini. Namun dampak politik pada saat ini masih singkat.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Jelas dari studi lapangan ini bahwa sudah ada dampak yang cukup signifikan

terhadap masyarakat Manggarai padahal proses komersialisasi tersebut

masih baru. Dampak yang positif dan negatif bisa dilihat. Dari segi ekonomi,

dewasa ini warga di daerah penelitian saya memang mendapat penghasilan

yang lebih tinggi daripada dulu sejak tenunan songke menjadi barang

komersial, sehingga mereka biasanya mendapatkan cukup uang untuk

memenuhi kebutuhan ekonominya dengan kombinasi penghasilan dari kebun

dan tenunan. Dampak ekonomi sekarang memang positif tetapi mungkin

keadaan ini tidak bisa diharapkan berlangsung terus-menerus karena

bermacam-macam alasan.

Mungkin dampak sosial yang paling nyata, khususnya terhadap sebuah

kelompok dalam masyarakat yaitu kaum perempuan. Dengan proses

komersialisasi tenunan, mulai ada perubahan peranan gender di masyarakat

Manggarai. Implikasi terhadap status kaum perempuan dan kaum laki-laki

menarik sekali. Pada umumnya, walaupun kaum perempuan cenderung lebih

dihargai, kaum laki-laki cenderung kurang menghargai diri sejak

komersialisasi tenunan, karena di masa kini, perempuan lebih berperan

sebagai pencari nafkah dibandingkan dulu. Ada banyak gadis yang tidak

berencana cepat menikah dengan alasan mau mandiri dan bisa memenuhi

kebutuhan ekonomi dari penghasilan sendiri. Hal ini sangat signifikan dalam

hubungannya dengan persoalan status kaum perempuan di Manggarai.

Namun ada juga banyak laki-laki yang menjadi bingung tentang perubahan

peran ini dan bisa menyebabkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga

mereka. Fenomena menarik lain adalah di mana perempuan tidak

melanjutkan sekolah karena harus pulang untuk menenun yang dampak

jangka panjangnya pasti kurang baik. Gejala sosial dari hal ini sangat

komplek dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Walaupun ada beberapa dampak yang kurang positif akibat proses

komersialisasi tenunan, tetapi ada satu hal yang jelas yaitu proses ini tidak

mungkin akan dihentikan. Karena itu usaha yang bersifat praktis harus

dikerjakan untuk mengurangi efek negatif dari proses komersialisasi misalnya

untuk melestarikan pengetahuan tradisional sekaligus memperbaiki

kehidupan penduduk setempat.

Misalnya, harus ada yang mengumpulkan semua alat tradisional dan

mencatat cara pembuatan benang dan lain sebagainya. Kalau tidak,

pengetahuan tradisional tersebut akan hilang. Untuk memperbaiki

kesejahteraan para penenun dan masyarakat Manggarai pada umumnya,

harus ada perkembangan dan perluasan pasaran untuk tenunan songke.

Saya sudah berkomunikasi dengan Oxfam Australia Trading, sebuah divisi

dari sebuah LSM, Oxfam CAA, yang kegiatannya mengimpor barang

kerajinan dari negara berkembang untuk dijual di toko mereka di Australia.

Mereka sangat tertarik pada kemungkinan mendapat tenunan songke untuk

dijual di sini. Mudah-mudahan kami bisa bekerjasama untuk membantu

memudahkan perkembangan seperti ini yang menurut saya sangat positif.

Proses komersialisasi tenunan songke masih baru sehingga dampak jangka

panjangnya belum jelas. Karena itu kesimpulan penelitian saya ini mungkin

tidak lengkap. Memang penelitian ini masih pada tahap awal. Saya harap

penelitian tentang dampak komersialisasi tenunan songke ini bisa dilanjutkan

dan diteruskan di masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

- Hamilton, Roy W. (red.), Gift of the Cotton Maiden: Textiles of Flores and

the Solor Islands, University of California Press, L.A., 1994.

- Hitchcock, Michael, Indonesian Textile Techniques, Shire Ethnography

Publications Ltd., U.K., 1985.

- Kantor Statiskik Kabupaten Manggarai, Kecamatan Cibal Dalam Angka

2000, Badan Pusat Statistik (BPS), Manggarai, 2001.

- Kartiwa, Suwati, Kain Songket Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta,

1984.

- Ngonde, Sylvia Kurniawati, Pemanfaatan Tenun Songke pada Masyarakat

Manggarai: Studi Deskripsi di Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten

Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik, Universitas Airlangga, Surabaya, 1993.

- Pemerintah Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai dalam Aneka

Persona dan Peluang Investasi, Pemerintah Kabupaten Manggarai,

Manggarai, 2000.

- Turner, Peter, et. al., Lonely Planet: Indonesia (6th Edition), Lonely Planet

Publications Pty. Ltd., Victoria, 2000.

********

Tidak ada komentar: